KEJAR OKUPANSI : Ketua PHRI Balikpapan Soegianto paparkan kondisi perhotelan saat ini.  BALIKPAPAN – Tak dipungkiri, kondisi pengetatan anggaran yang diterapkan pemerintah pusat, memberi dampak ke semua sektor. Termasuk sektor perhotelan, yang mengawali tahun 2026 dengan kondisi yang cukup berat. Dipaparkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto, perkembangan hotel dari awal hingga pertengahan tahun 2026, tak berjalan terlalu mulus. Mengingat adanya pengetatan anggaran, membuat kunjungan tamu dari instansi pemerintahan kian berkurang. “Kondisinya biasa-biasa saja, tapi market kami sendiri kan dari pemerintah. Makanya dari Januari sampai Mei itu okupansi hanya di 30 persen,” jelasnya.Tak hanya dari pemerintahan, dia melanjutkan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan juga memberi berpengaruh besar. Para pekerja dari sektor-sektor supplier tambang yang dulunya kerap menjadi tamu hotel, perlahan mulai berkurang. Meski sempat ada perayaan Hari Kemerdekaan pada Agustus lalu, Soegianto menyebut hampir tidak ada pengaruhnya ke tingkat kunjungan. Di sisi lain, dengan adanya event besar seperti Bayan Open yang baru tuntas, malah memberi dampak signifikan. Dia menjabarkan, ada sekitar 1.293 atlet yang berkumpul di Balikpapan untuk agenda Bayan Open. Bila kurang lebih 300 atlet berasal dari Balikpapan, maka kurang lebih ada 900 tamu yang berasal dari luar daerah dan meramaikan hotel-hotel yang ada di Balikpapan. “Hampir semua hotel yang rata-rata bintang 3, bintang 2 maupun guest house itu rata-rata habis. Nah itu event-event seperti Bayan Open inilah yang diperlukan, karena membuat okupansi di kota Balikpapan bisa naik,” katanya. Walau begitu, dia memastikan operasional hotel tidak akan terpengaruh. Melainkan, pendapatan yang didapatkan owner sendiri tentu berkurang. Imbasnya, kata dia, berlaku sistem shift, di mana jam kerja para karyawan dikurangi. Hal itu tentu berpengaruh pula pada pendapatan sang karyawan.  “Kalau ini enggak cukup, otomatis kami harus nombok. Terus ada hotel-hotel yang jam kerja karyawan terpaksa dikurangi. Itu juga kesepakatan bersama antara karyawan dengan manajemen, tapi di Balikpapan tidak ada yang di-PHK,” tambahnya. Terkait kondisi ini, Soegianto juga telah berkoordinasi langsung dengan pemerintah kota. Kabar baiknya, mulai bulan Juli, okupansi mulai menunjukkan kenaikan. Dia juga mengakui, secara siklusnya okupansi akan mulai terlihat pada Juni dan Desember. Apalagi pada Oktober nanti, akan kembali terlaksana dua event nasional sekaligus. Di antaranya, Pekan Olahraga Antar Perusahaan Air Minum Nasional (PORPAMNAS) IX dan Bayan Run 2026. “Nanti di Oktober akan ada Porpamnas, nah itu akan datang sekitar 4.000 orang. Di samping itu tanggal 10 ada juga Bayan Run, nah di situ nanti hecticnya semua hotel itu penuh. Ya mudah-mudahan bisa mencapai 60 persen tahun ini,” tandasnya. (*) Editor : Ismet Rifani