48 Hours in Malang City Menjadi Target Disporapar Malang Untuk Wisatawan dan Kampanye Gaya Hidup Sehat
-
BY
Bookingina
-
Source :
Malang Posco Media
- DATE 09/15/2026
Malang Posco Media, Malang – Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang terus berupaya mendongkrak sektor pariwisata daerah. Dalam pertemuan rutin Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Kepala Disporapar Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, S.STP, M.Si, menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan angka length of stay (lama tinggal) wisatawan yang saat ini masih mencatatkan rata-rata satu hingga dua hari berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Untuk mencapai target tersebut, Disporapar merancang program promosi khusus berupa video pendek bertajuk “48 Hours in Malang City” (48 Jam di Kota Malang). Langkah ini diharapkan dapat mendorong wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk menghabiskan waktu setidaknya tiga hari dua malam di Kota Malang.
“Target kami di tahun 2026 ini, angka hunian lama tinggal wisatawan di Kota Malang, baik lokal maupun asing, minimal dua hari. Artinya kalau dua hari di Kota Malang, dia menginap tiga hari dua malam di sini,” ujar Arif.
Ia menambahkan bahwa semakin lama durasi berkunjung wisatawan, perputaran ekonomi lokal mulai dari UMKM hingga sektor kuliner akan terdorong secara signifikan melalui multiplier effect. Meskipun terdapat kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat, sektor perhotelan di Kota Malang dinilai masih cukup tangguh dengan angka okupansi harian yang terjaga stabil di kisaran 60 hingga 70 persen.
Selain mempromosikan durasi kunjungan, Disporapar juga menyelaraskan langkah dengan program prioritas Wali Kota Malang, seperti slogan “Ngalam Nyaman” serta agenda “1.000 Event”. Berbagai gelaran acara olahraga (sport tourism), seperti lari dan bersepeda, rutin digelar setiap pekan untuk menarik minat berkunjung. Salah satu agenda mendatang yang disiapkan bersama pihak Kepolisian adalah ajang Urban Trail pada 31 Oktober hingga 1 November, di mana para peserta lari akan melintasi empat kampung tematik (Kampung Putih, Kampung Biru, Kampung Warna-Warni, dan Kayutangan Heritage) dengan titik start/finish di Stadion Gajayana.
Pertemuan tersebut juga diwarnai dengan keterlibatan komunitas untuk memperkaya variasi daya tarik pariwisata dan gaya hidup sehat di sektor hospitality, salah satunya lewat kehadiran gerakan komunitas 21 Hari Vegan. Perwakilan dari gerakan 21 Hari Vegan, Tuti Oktariani, menjelaskan bahwa pihaknya berfokus pada advokasi dan edukasi pola makan berbasis nabati bagi masyarakat. Komunitas ini hadir bukan untuk menjual produk, melainkan mengusung pendekatan budaya dan edukasi kesehatan dengan berkolaborasi bersama Loving Hut Surabaya.
“21 Hari Vegan ini adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada kegiatan advokasi makanan berbasis nabati di Indonesia melalui pendekatan yang relevan secara budaya dan mudah diakses,” terang Okta.
Menurutnya, edukasi ini penting agar masyarakat dapat memilih bahan-bahan berbasis nabati dalam kehidupan sehari-hari yang berdampak positif bagi kesehatan, lingkungan, serta kelestarian sesama makhluk hidup. (sam/nda)