MALANG, DISWAYMALANG.ID–Gagasan Malang Raya Megapolitan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi kawasan jika Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu mampu membangun kolaborasi yang lebih terintegrasi. Tiga wilayah tersebut memiliki karakter dan keunggulan berbeda. Kondisi itu justru dapat menjadi kekuatan apabila potensi pariwisata, perdagangan, perhotelan, pertanian, kuliner, hingga UMKM dikembangkan sebagai satu ekosistem ekonomi. ​Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang Agoes Basoeki menegaskan pentingnya keterpaduan dan peran saling mengisi antardaerah. ​"Ketiga wilayah ini saling Melengkapi. Kota Batu unggul dengan wisata alam, wisata pertanian, wahana buatan, serta fasilitas hotel dan vila. Kabupaten Malang kaya akan wisata pantai, wisata religi, hingga desa wisata seperti di kawasan Tumpang dan Poncokusumo. Sementara Kota Malang kini terus berkembang dengan fasilitas hotel, ragam kuliner, serta destinasi wisata warisan sejarah (heritage) dan tematik," kata Agoes saat ditemui di tempat kerjanya, Selasa (1/9/2026). ​Pola pergerakan wisatawan saat ini pun sudah terbentuk dengan alami. Wisatawan kerap menghabiskan siang hari menikmati destinasi di Kota Batu, lalu beralih ke Kota Malang pada sore hingga malam hari untuk berwisata kuliner serta menikmati suasana kawasan Kayutangan Heritage, baik di kedai kaki lima maupun kafe dan restoran modern. ​Ekosistem Bisnis dan Dukungan bagi UMKM ​Agoes menambahkan, pesatnya pertumbuhan hotel di Kota Malang saat ini menuntut integrasi rantai pasok ekonomi. Bahan baku industri kuliner dan resto dapat disuplai langsung dari hasil tani Kabupaten Malang dan Kota Batu. Sebaliknya, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khas Malang Raya—seperti camilan oleh-oleh dan suvenir—mempunyai ruang pasar yang luas di sektor akomodasi. ​Sebagai bukti nyata dukungan terhadap pelaku usaha lokal, hotel tempatnya beraktivitas—seperti The Shalimar Boutique Hotel—menerapkan sistem konsinyasi bagi produk UMKM lokal. ​"Kami sangat terbuka menerima produk suvenir maupun makanan ringan dari pelaku UMKM. Namun, tentu harus memenuhi standar mutu dan legalitas dasar, seperti izin PIRT, sertifikasi Halal, serta persyaratan hygiene standar hospitality. Pendampingan dan pembinaan mutu ini menjadi ranah pemerintah untuk terus mengawal pelaku UMKM," jelasnya. ​Agoes menekankan, keharusan sertifikasi halal serta menjaga perilaku dan standar layanan yang baik adalah fondasi penting untuk mempertahankan keberlanjutan ekosistem kepariwisataan di Malang Raya.   Siap Jadi Panelis Diskusi "Menuju Malang Raya Megapolitan" Sementara itu, Agoes  menyambut positif gelaran acara diskusi yang diinisiasi Disway Malang bersama Bakorwil III Jawa Timur. Kehadiran Disway Malang menemuinya memang berkaitan dengan diskusi panel bertajuk  "Bincang Bisnis Bersama Dahlan Iskan: Kolaborasi Bisnis Menuju Malang Raya Megapolitan". Kegiatan yang  akan dilaksanakan pada 10 September 2026  itu merupakan rangkaian HUT ke-2 Disway Malang. Bakal menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai perwakilan pemerintah daerah, perbankan, asosiasi usaha, hingga akademisi.   ​"Fasilitas dan potensi ekonomi yang saling mengisi ini harus dirangkai melalui komunikasi intensif dan tatap muka antar-pemangku kepentingan. Diskusi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian agenda bersama yang telah berjalan. Dan,  saya menyambut baik kesempatan untuk hadir sebagai salah satu panelis," tegas Agoes mengapresiasi. ​Melalui dialog berkelanjutan antar-ketiga daerah, ekosistem ekonomi yang solid dan mandiri di Malang Raya diyakini dapat segera terwujud demi menopang konsep Malang Raya Megapolitan di masa depan.