Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) Sandri Ernamurti. PENAJAM- Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan signifikan hingga tersisa 20 persen per bulan. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi kebijakan efisiensi anggaran serta dampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Benuo Taka, sebutan PPU. Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) PPU, Sandri Ernamurti, mengungkapkan bahwa penurunan ini mempersempit ruang gerak pelaku usaha perhotelan lokal. Sebelumnya, rata-rata okupansi hotel di daerah tersebut biasanya mampu mencapai angka 30 persen setiap bulannya. "Sebenarnya hunian tingkat okupansi di PPU ini bukan hanya karena masalah karhutla saja. Rata-rata di mana-mana juga pasti okupansi turun sekali dengan adanya efisiensi anggaran ini. Cuman dengan adanya musibah seperti ini, bertambah lagi jadi agak turun, yang tadinya biasanya 30 persen per bulan, sekarang jadi sisa 20 persen per bulan," ungkap Sandri, dikonfirmasi, Minggu (25/10/2026). Baca Juga: Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat, Balikpapan Perpanjang Pembelajaran Jarak Jauh Sandri menjelaskan bahwa penurunan tingkat hunian kamar sebesar 10 persen tersebut sangat memberatkan manajemen hotel. Penurunan pendapatan ini terjadi di tengah keharusan pelaku usaha untuk terus memenuhi berbagai pengeluaran rutin operasional setiap bulan tanpa adanya pengurangan beban biaya. “Terdapat sejumlah beban operasional tetap yang tidak bisa ditunda, mulai dari pembayaran gaji pegawai, penyediaan konsumsi karyawan, hingga tagihan listrik dan air,” rincinya. Menurut Sandri, komponen-komponen vital tersebut harus selalu dibayarkan penuh. Selain biaya rutin tersebut, pengelola hotel juga harus memutar otak dalam menanggung biaya pemeliharaan dan pengeluaran lain. Termasuk penggantian peralatan yang rusak akibat usia pakai serta kebutuhan operasional alat tulis kantor. “Seluruh beban operasional tersebut tetap berjalan penuh kendati arus tamu yang datang berkurang drastis,” jelasnya. Situasi pelik ini, memaksa para pengusaha perhotelan di PPU memutar otak guna mencari alternatif pemasukan tambahan. Inisiatif usaha lain kini tengah dipertimbangkan secara matang agar bisnis tetap dapat bertahan serta mampu menutupi tingginya biaya operasional bulanan. (riz) Editor : Muhammad Rizki