Mediacirebon.id – Pemerintah Kota Cirebon bersama PHRI menggelar Cirebon Mask Festival (CMF) 2026 pada tanggal 15 dan 16 November 2026 nanti. Event topeng terbesar ini melibatkan lima negara, yakni Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Ekuador, dan Jerman. Berlokasi di Balai Kota Cirebon, festival ini menjadi ruang pertemuan budaya yang mempertemukan seni Topeng Cirebon dengan tradisi topeng dari berbagai belahan dunia. CMF 2026 juga dirancang sebagai sarana edukasi, interaksi, serta upaya memperkuat pelestarian warisan budaya kepada generasi muda. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon Agus Sukmanjaya mengatakan, CMF menjadi salah satu upaya untuk menjaga budaya sekaligus mendekatkan seni topeng kepada masyarakat lintas generasi. “Festival ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk kembali mengenal tradisi, mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” ujar Agus, Selasa (13/10/2026). Pelaksanaan CMF melibatkan para pelaku seni dan pegiat pelestarian Topeng Cirebon, mulai dari dalang, nayaga atau pemain musik pengiring, penari, perajin topeng, hingga penjahit kostum. “Keterlibatan mereka menjadi bagian penting dalam menjaga agar tradisi tidak hanya bertahan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus berkembang melalui praktik seni yang nyata,” ungkapnya. Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga sarana diplomasi budaya yang mempertemukan tradisi lokal dengan perspektif global. Upaya memperluas jangkauan pelestarian seni topeng turut diwujudkan melalui kolaborasi antara Cirebon Mask Festival dan International Mask Festival (IMF) dari Solo, Jawa Tengah. Kedua festival memiliki semangat yang sejalan dalam menjaga dan memperkenalkan seni topeng sebagai warisan budaya. “Kolaborasi ini menjadi langkah untuk memperkuat jejaring antarkomunitas seni, memperluas ruang pertukaran budaya, serta membuka peluang pertemuan antara tradisi topeng Cirebon, Solo, dan berbagai negara,” ungkap Agus. Ketua PHRI Kota Cirebon sekaligus Ketua CMF 2026, Imam Reza Hakiki mengatakan kolaborasi antara PHRI dan Pemerintah Daerah Kota Cirebon melalui Disbudpar menjadi bagian penting dalam menyukseskan festival tersebut. Ia mengajak perusahaan, pemilik merek, institusi, komunitas, serta berbagai mitra untuk terlibat dalam mendukung penyelenggaraan CMF 2026. Menurut Imam, dukungan terhadap festival ini tidak semata-mata berkaitan dengan sponsorship, tetapi juga merupakan bentuk investasi bersama untuk memperkuat identitas daerah, menggerakkan ekonomi lokal, dan membawa budaya Cirebon ke panggung internasional. “Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, perajin, seniman, serta sektor kuliner dan perhotelan untuk turut berkembang melalui kegiatan festival,” ujar pria yang akrab disapa Kiki. Menurut Kiki, CMF 2026 akan menghadirkan beragam kegiatan yang memungkinkan pengunjung menikmati sekaligus terlibat langsung dalam perayaan budaya. Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain pertunjukan topeng dari lima negara, pertunjukan Topeng Cirebon, pasar seni dan kuliner, kirab budaya, dialog budaya, serta lokakarya atau workshop topeng, batik, dan kuliner.