Cirebon Mask Festival 2026 Mengundang Empat Negara, Merawat Tradisi Topeng
-
BY
Bookingina
-
Source :
Nusae
- DATE 10/10/2026
KLIKNUSAE.com – Tradisi topeng bukan sekadar penutup wajah. Di balik bentuk, warna, dan gerak tari yang menyertainya, tersimpan sejarah serta filosofi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kekayaan tradisi itu akan menjadi bagian dari Cirebon Mask Festival (CMF) 2026 yang digelar di Balai Kota Cirebon pada 15–16 November mendatang.
Memasuki tahun ketiga, festival ini mempertemukan seni topeng dari berbagai daerah di Indonesia dengan tradisi dari empat negara. Yakni Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Myanmar.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan kekayaan seni topeng Cirebon sekaligus membuka ruang pertukaran budaya lintas negara.
Cirebon selama ini dikenal dengan tradisi Tari Topeng yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Namun, keberlangsungan seni tradisional tidak cukup hanya mengandalkan pertunjukan.
Regenerasi seniman, pewarisan pengetahuan, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga agar tradisi tersebut tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
Cirebon Mask Festival berupaya mengambil peran itu. Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan interaksi bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus digelar untuk merayakan hari ulang tahun Museum Topeng Cirebon.
Melibatkan Pelaku Seni Lokal
Festival ini diinisiasi oleh komunitas bersama Pemerintah Daerah Kota Cirebon melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Dalam pelaksanaannya, CMF melibatkan berbagai pelaku seni, mulai dari dalang, nayaga, penari, pengrajin topeng, hingga penjahit kostum.
Mereka merupakan bagian dari ekosistem yang menjaga tradisi tetap hidup. Di balik pertunjukan yang dinikmati penonton, terdapat proses panjang pembuatan topeng, penyiapan kostum, penguasaan gerak tari, hingga pengiringan musik tradisional.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, mengatakan festival ini menjadi ruang kolaborasi untuk mengangkat potensi budaya, kuliner, dan pariwisata daerah.
Menurut dia, penyelenggaraan CMF 2026 juga diarahkan untuk memperkuat keterkaitan antara sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri perhotelan di Kota Cirebon.
Kota ini memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Festival budaya menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kekayaan lokal dengan kebutuhan industri pariwisata, tanpa melepaskan nilai tradisi yang menjadi fondasinya.
Mempertemukan Cirebon dan Solo
Upaya memperluas jejaring budaya dilakukan melalui kolaborasi dengan International Mask Festival (IMF) dari Solo, Jawa Tengah.
Kedua festival memiliki semangat serupa, yakni memperkenalkan sekaligus menjaga keberlangsungan seni topeng.
Kolaborasi ini membuka peluang bagi pertemuan tradisi Cirebon, Solo, dan berbagai kebudayaan dari luar negeri.
Dengan begitu, festival tidak berjalan sebagai agenda daerah yang terpisah, melainkan menjadi bagian dari jejaring pertukaran budaya yang lebih luas.
Ketua BPC PHRI Kota Cirebon Imam Reza Hakiki saat memberikan sambutan di acara Rakorwil III PHRI Cirebon, Rabu 9 September 2026. (Foto: Kliknusae.com/Adhi)
Kehadiran delegasi Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Myanmar juga diharapkan memperkaya pengalaman pengunjung.
Setiap tradisi membawa sejarah, karakter, dan cara pengungkapan artistik yang berbeda.
Perjumpaan tersebut memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat persamaan dan perbedaan seni topeng dari berbagai kebudayaan.
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Pada penyelenggaraan tahun ini, CMF menggandeng Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon.
Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperluas dukungan sekaligus memperbesar dampak festival bagi perekonomian daerah.
Ketua PHRI Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki, mengajak perusahaan, merek, institusi, komunitas, dan berbagai mitra untuk terlibat dalam penyelenggaraan festival.
Menurut Imam, dukungan terhadap CMF tidak semata-mata berupa sponsorship.
Kolaborasi itu merupakan investasi bersama untuk memperkuat identitas daerah, menggerakkan ekonomi lokal, dan membawa budaya Cirebon ke panggung internasional.
Keterlibatan sektor perhotelan dan restoran juga membuka peluang bagi festival untuk terhubung dengan aktivitas wisatawan.
Sedangkan pengunjung yang datang tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi berkesempatan menikmati kuliner, mengunjungi destinasi, serta mengenal produk kreatif setempat.
Meski demikian, dampak ekonomi festival akan bergantung pada sejauh mana kegiatan tersebut mampu menarik pengunjung, mendorong aktivitas usaha lokal, dan membangun pengalaman wisata yang berkelanjutan.
Dari Kirab Budaya hingga Pasar Seni
CMF 2026 akan menghadirkan beragam kegiatan. Selain pertunjukan topeng dari empat negara dan seni topeng Cirebon, pengunjung dapat menyaksikan kirab budaya.
Termasuk, mengunjungi pasar seni dan kuliner, serta mengikuti dialog budaya.
Panitia juga menyiapkan lokakarya topeng, batik, dan kuliner. Sejumlah kegiatan lain yang dijadwalkan meliputi table top, gala dinner, berbagai perlombaan, serta program relawan atau volunteer.
Rangkaian kegiatan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat lebih jauh, bukan sekadar menjadi penonton.
Melalui lokakarya dan dialog, pengunjung dapat mengenal proses kreatif serta nilai budaya yang melatarbelakangi kesenian topeng.
Keterlibatan masyarakat menjadi penting agar festival tidak berhenti sebagai perayaan tahunan.
Tradisi akan terus bertahan apabila memiliki ruang untuk dipelajari, dipraktikkan, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Cirebon Mask Festival 2026 dijadwalkan berlangsung pada 15–16 November di Balai Kota Cirebon.
Di tengah arus perubahan budaya dan industri pariwisata, festival ini membawa satu pekerjaan besar.
Apalagi kalau bukan memastikan seni topeng Cirebon tetap hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi mendatang. ***