Ringkasan Berita: Menurut Ketua BPD PHRI Kalbar, Eddy Chandra, banyaknya penerbangan yang dibatalkan atau terlambat menyebabkan sejumlah kegiatan dari luar daerah dibatalkan atau diundur sehingga tingkat hunian hotel lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Eddy Chandra berharap pemerintah daerah meminta dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan karhutla, termasuk melalui penambahan armada helikopter pemadam kebakaran. TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap industri perhotelan dan restoran di Kalimantan Barat (Kalbar).  Tingkat hunian atau okupansi hotel dilaporkan hanya berkisar 30 hingga 40 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalbar, Eddy Chandra, mengatakan kondisi kabut asap yang terjadi belakangan ini memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas industri perhotelan dan restoran. Baca juga: Mata dan Pernapasan Terancam Asap Karhutla, Warga Pontianak Utara Dapat Layanan Kesehatan Gratis Menurut Eddy, salah satu faktor yang memicu penurunan okupansi hotel adalah banyaknya penerbangan yang mengalami pembatalan maupun keterlambatan akibat kabut asap.  Kondisi tersebut turut memengaruhi pelaksanaan berbagai agenda dan kegiatan yang melibatkan peserta dari luar Kalimantan Barat. "Sangat berdampak di industri perhotelan dan restoran dengan keadaan kabut asap selama ini, okupansi hanya sekitar 30-40 persen karena banyak penerbangan yang cancel atau delay yang menyebabkan banyak acara-acara dari luar Kalimantan Barat dibatalkan atau diundur," ungkap Eddy Chandra saat dikonfirmasi Tribunpontianak.co.id, Sabtu 10 Oktober 2026. Ia menegaskan, tingkat hunian hotel pada tahun ini lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dampak kabut asap tersebut juga dirasakan oleh anggota PHRI Kalbar. "Jika dibanding tahun lalu, tahun ini lebih rendah okupansinya," ujarnya. Baca juga: BPBD Kalbar Temui Aksi IMM Pontianak Terkait Karhutla, Sebut Sudah Mitigasi Sejak Awal Tahun Eddy menjelaskan, peningkatan okupansi hotel sangat bergantung pada membaiknya kondisi cuaca dan kembali normalnya aktivitas penerbangan. Dengan demikian, kegiatan yang melibatkan peserta dari luar daerah diharapkan dapat kembali berlangsung sesuai jadwal. "Kalau untuk solusi agar okupansi naik, hanya bisa mengharapkan kondisi cuaca membaik, sehingga penerbangan kembali normal," katanya. Selain berharap kondisi cuaca segera membaik, Eddy meminta pemerintah daerah mendorong dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan karhutla di Kalbar. Menurutnya, upaya pemadaman yang lebih cepat diperlukan agar kabut asap tidak terus mengganggu berbagai sektor, termasuk pariwisata dan jasa perhotelan. Ia menilai penambahan armada helikopter pemadam kebakaran dapat menjadi salah satu langkah untuk mempercepat penanganan kebakaran di wilayah terdampak. "Harapan kami agar pemerintah daerah meminta bantuan pemerintah pusat dalam penanganan karhutla yang menyebabkan kabut asap agar bisa lebih cepat penanganannya, mungkin dengan penambahan unit helicopter-helicopter pemadam akan lebih cepat pemadamannya," tutup Eddy. Profil Singkat Eddy Chandra, Ketua BPD PHRI Kalbar