Terkini Terpopuler Top News NasionalSeputar KaltimEkonomi dan PariwisataOlahragaUmumIKN Foto Video Minggu, 4 Oktober 2026 5:30 WIB Bank Indonesia Kalimantan Timur (BI Kaltim) bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait, memperkuat pengendalian harga pangan guna menjaga stabilitas inflasi di tengah tekanan pasokan sejumlah komoditas akibat kondisi cuaca dan fenomena El Nino. "Pengendalian inflasi terus dilakukan melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan menerapkan strategi 4K (keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltim Jajang Hermawan di Samarinda, Sabtu. Berbagai langkah pengendalian pun terus diperkuat pihaknya untuk menjaga stabilitas harga, daya beli masyarakat, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi daerah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Berdasarkan data yang diolah BI setempat, inflasi Kaltim pada September 2026 tercatat 0,18 persen secara bulanan (mtm), meningkat dibandingkan Agustus sebesar 0,10 persen. Dari perkembangan tersebut, inflasi tahun kalender mencapai 2,82 persen, sedangkan inflasi tahunan sebesar 3,98 persen. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, disebabkan kekeringan akibat El Nino yang memengaruhi produktivitas sejumlah komoditas hortikultura dan pangan, terutama cabai dan beras. Sejumlah komoditas yang turut mendorong inflasi pada September 2026 antara lain cabai rawit, bayam, kangkung, tomat, dan jagung manis. Untuk menahan tekanan tersebut, TPID memperluas pelaksanaan gerakan pangan murah dan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di sejumlah daerah, termasuk Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat, dan Kutai Timur. Hingga September 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 80 persen. Pemerintah daerah bersama pihak terkait juga mendorong peningkatan produksi pangan melalui penerapan teknologi pertanian modern, termasuk optimalisasi pompa portabel pada lahan sawah yang terdampak kekeringan. Dari sisi distribusi, katanya, TPID memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan rantai pasok tetap berjalan. Pemantauan stok BBM dan LPG pun dilakukan, sementara perbaikan akses jalan menuju Kabupaten Mahakam Ulu turut didorong untuk memperlancar distribusi kebutuhan pokok. "Penguatan koordinasi dan pemantauan secara dini juga menjadi bagian penting untuk mempercepat respons terhadap potensi tekanan inflasi," kata Jajang. Ke depan, lanjutnya, BI bersama TPID Kaltim terus memperkuat strategi 4K dan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), sebagai langkah mitigasi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Editor : M.Ghofar COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026 Terkait Terpopuler