ESPOS.ID - Ketua PHRI Solo, Joko Sutrisno, menyampaikan pendapatnya tentang pembentukan Badan Promosi Pariwisata Daerah di Sragen kepada wartawan dj Red Chilies Hotel Sragen, belum lama ini. PHRI Solo minta Pemkab Sragen bentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) beserta lembaga pendukung (PHRI Sragen, Putri Sragen, Asosiasi Event Organizer Sragen) untuk dongkrak kunjungan wisatawan. Joko buka Red Chilies Hotel Sragen: 45 kamar, hotel bintang II, tenaga lokal, isi kekosongan akomodasi karena hotel existing sering penuh; di Solo 180 hotel, Sragen baru 1 hotel jejaring nasional. Kunci lain: kembangkan destinasi alternatif di sekitar kota dengan peny * Ringkasan ini dibuat oleh AI Esposin, SRAGEN — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Joko Sutrisno, menilai Kabupaten Sragen sudah menunjukkan geliat pertumbuhan ekonomi dan kunjungan pariwisata yang signifikan dengan tumbuh perhotelan meskipun masih terbatas. Joko mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mengambil langkah strategis membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) beserta lembaga pendukungnya untuk mendongkrak mobilitas pendatang agar berkunjung ke Bumi Sukowati. Joko sendiri berani berspekulasi membuka hotel baru, Red Chilies Hotel Sragen, untuk melengkapi sarana akomodasi bagi para pengunjung di Sragen yang menjadi saudara tua Yogyakarta. Lembaga pendukung yang dimaksud Joko, seperti PHRI Sragen, Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi (Putri) Sragen hingga Asosiasi Event Organizer Sragen. Jangan Mudah Tergiur Imbal Hasil Tinggi, BRI Ingatkan Risiko Penipuan Investasi Joko membandingkan antara Solo dan Sragen yang kontras. Dia mengungkapkan di Solo tumbuh perhotelan dengan pesat. Joko mencatat ada 180 hotel berdiri di Solo, sebanyak 70 hotel di antaranya merupakan hotel berbintang. Sementara di Sragen, sebut dia, baru ada satu hotel jejaring nasional, seperti Front One Hotel. Atas kontrasnya pertumbuhan perhotelan itulah, Joko berani hadir mewarnai Sragen dengan mendirikan Red Chilies Hotel di Sragen. “Dari informasi Pak Bupati, Pak Wakil Bupati, hingga jajaran DPRD, hotel yang ada di Sragen bahkan sampai antre dan penuh. Ini menunjukkan lonjakan masyarakat atau kegiatan yang datang ke Sragen semakin tinggi. Sementara itu, jumlah penginapan masih kurang, sehingga perlu adanya penambahan hotel yang sepadan,” ujar Joko saat ditemui wartawan di Red Chilies Hotel Sragen, belum lama ini. Joko memastikan berdirinya Red Chilies Hotel Sragen didukung oleh manajemen dan karyawan yang direkut dari tenaga lokal Sragen sehingga dapat menekan angka pengangguran dan memberikan standar akomodasi bintan II dengan kapasitas 45 kamar. Joko menekankan pembentukan BPPD menjadi penting untuk mendukung program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen yang aktif menggelar event-event berskala nasional. Joko mengatakan BPPD dan lembaga pendukungnya belum ada. Kalau semua lembaga tersebut terbentuk, kata dia, maka bisa duduk bersama dan memikirkan kemajuan event di Sragen. “Semakin banyak event digelar, semakin banyak pula orang berbondong-bondong datang ke Sragen, seperti halnya Festival Payung atau Festival Jenang di Solo yang sifatnya sudah nasional,” harap dia. Optimalisasi Destinasi dan Event Tematik Joko, yang juga berpengalaman sebagai mantan ketua badan promosi, menyoroti potensi Situs Manusia Purba Sangiran yang selama ini menjadi ikon utama Sragen. Dia menyayangkan jarak lokasi Sangiran yang cenderung lebih dekat diakses wisatawan untuk kembali menginap ke Kota Solo daripada ke Kota Sragen. Dia menyarankan agar destinasi-destinasi alternatif di sekitar wilayah perkotaan Sragen dikembangkan secara serius. Dia berpendapat sebuah destinasi wisata memerlukan pembaharuan wahana atau daya tarik secara berkala setiap enam bulan agar wisatawan tidak merasa bosan dan memiliki alasan untuk datang kembali serta bermalam di Sragen. “Saya sudah survei langsung, lokasinya luas. Tinggal perlu kreativitas untuk menghadirkan spot-spot foto atau daya tarik lain. Mudah-mudahan ke depan bisa berkolaborasi dengan para pengusaha di bidang destinasi wisata agar pengunjung ramai dan mau menginap di Sragen,” kata dia. Sebagai alternatif pendongkrak kunjungan, Joko mengusulkan agar Sragen memperbanyak festival tematik berstandar nasional, seperti Festival Gamelan, Festival Wayang, Festival Sound System, festival jazz nasional, hingga ajang olahraga lari massal (sport tourism) yang terbukti mampu menarik ribuan peserta dari berbagai daerah sebagaimana sukses diterapkan di Solo dan Karanganyar. “Seperti event lari di Solo atau Karanganyar yang pesertanya bisa mencapai ribuan orang, jika Sragen juga mengadakan hal serupa, saya yakin pasti akan mendatangkan banyak orang. Kuncinya ada pada kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi EO, PHRI, dan asosiasi pariwisata lainnya,” jelas dia. Baca Juga Infrastruktur Air PDAM Senilai Rp92 Miliar untuk 9 Desa di Sragen Begini Pandangan Psikolog RSSP Sragen terkait Kasus Guru Cubit Siswa ABK Wong Solo Buka Hotel Bintang II di Sragen, Bupati: Bisa Picu Pertumbuhan Ekonomi