Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang kini berstatus Level III (Siaga) mulai berdampak terhadap sektor pariwisata dan perhotelan di Lampung. Baca juga: Imbas Abu Vulkanik GAK, Disdikbud Lampung Imbau Siswa Batasi Aktivitas di Luar Imbasnya, sejumlah reservasi hotel mulai dibatalkan seiring terganggunya akses transportasi menuju Lampung. Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Lampung Friandi Indrawan mengatakan, dampak tersebut mulai terasa dalam dua hari terakhir, terutama pada Jumat (4/9/2026) dan Sabtu (5/9/2026).  "Pembatalan reservasi hotel mulai mencuat dalam dua hari terakhir, khususnya Jumat dan Sabtu, karena akses transportasi menuju Lampung semakin terbatas," kata Friandi, Minggu (6/9/2026). Ia menjelaskan, kendala terjadi pada transportasi laut maupun udara. Kondisi tersebut turut memengaruhi minat masyarakat untuk melakukan perjalanan ke Lampung. Pemilik Taman Wisata Tabek Indah itu menyebut, salah satu penerbangan dari Malaysia menuju Lampung melalui maskapai TransAir dilaporkan harus melakukan return to base atau kembali ke bandara asal akibat erupsi GAK. Ia khawatir dampak erupsi juga berdampak ke transportasi laut. "Di transportasi laut, status siaga ini juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi bencana seperti tsunami. Ini tentu berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk melakukan perjalanan," ujarnya. Meski mulai terjadi pembatalan pemesanan kamar dan penurunan wisatawan, Friandi menilai dampak ekonomi terhadap sektor perhotelan sejauh ini belum tergolong signifikan. Namun, pengelola hotel tetap melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk melindungi tamu dari paparan debu vulkanik. Pihak hotel, kata dia, meningkatkan frekuensi pembersihan di sejumlah area properti. Selain itu, masker juga dibagikan secara gratis kepada para tamu melalui bagian front office. "Kami melakukan pembersihan ekstra di area hotel dan membagikan masker secara gratis kepada tamu yang menginap melalui front office," jelasnya. Persoalan lain yang kini dihadapi pengelola hotel adalah keterbatasan pasokan masker. Friandi mengatakan, masker di sejumlah apotek dan toko swalayan di Bandar Lampung dilaporkan telah habis.