PHRI Dorong Tempe Jadi Ikon Wisata Kuliner Indonesia
-
BY
Bookingina
-
Source :
KABARPUBLIK
- DATE 07/27/2026
Dengarkan dgn suara
Siap
4.6K pembacaJAKARTA (kabarpublik.id) – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mendorong tempe menjadi identitas wisata kuliner nasional sekaligus produk bernilai ekonomi tinggi melalui pengembangan menu kreatif di hotel dan restoran.
Ketua Umum PHRI Hariyadi B.S. Sukamdani mengatakan industri perhotelan dan restoran memiliki peran strategis dalam memperkenalkan tempe kepada wisatawan karena menjadi titik temu antara pariwisata, budaya, dan kuliner.
“Hotel dan restoran merupakan tempat bertemunya wisata, budaya, dan kuliner. Dari sinilah wisatawan dapat memperoleh pengalaman khas Indonesia, termasuk melalui sajian berbahan dasar tempe,” ujar Hariyadi dalam Seminar Nasional Menguatkan Ketahanan Pangan Nasional di Jakarta, Senin.
Menurutnya, tempe memiliki nilai sejarah, proses fermentasi tradisional, serta kearifan lokal yang menjadikannya layak diposisikan sebagai identitas kuliner Indonesia di mata dunia. Ia menilai potensi tersebut tidak kalah dengan kimchi dari Korea Selatan, sushi dari Jepang, tom yum dari Thailand, maupun pizza dari Italia.
“Tempe sangat berpeluang menjadi identitas kuliner Indonesia,” katanya.
Hariyadi menjelaskan, saat ini tempe tidak lagi dipandang sebagai makanan sederhana. Berkat inovasi para chef, tempe telah diolah menjadi berbagai hidangan modern seperti burger tempe, steak tempe, tempe Wellington, tempe katsu sando, hingga tempe carpaccio.
Selain itu, tempe juga semakin banyak disajikan sebagai menu sehat berbasis protein nabati dalam prasmanan, menu sarapan, maupun pilihan khusus bagi konsumen vegetarian.
PHRI juga mendorong kolaborasi dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk olahan tempe sebagai oleh-oleh khas daerah. Langkah tersebut dinilai mampu memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan produsen lokal.
Di sisi lain, Hariyadi menekankan penguatan industri tempe harus dibarengi peningkatan produksi kedelai nasional. Pasalnya, sebagian besar kebutuhan bahan baku masih bergantung pada impor.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan, rata-rata impor kedelai pada periode 2022–2026 mencapai 2,46 juta ton atau sekitar 93,58 persen dari kebutuhan nasional sebesar 2,62 juta ton. Sementara produksi kedelai dalam negeri rata-rata hanya sekitar 190 ribu ton atau 8,14 persen dari total kebutuhan.
PHRI mendukung program swasembada kedelai sebagai upaya memperkuat pasokan bahan baku, menjaga keberlanjutan industri tempe, serta mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar terhadap biaya produksi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Forum Tempe Indonesia, Hardinsyah, mengungkapkan produk tempe Indonesia telah diekspor ke 12 negara seiring meningkatnya permintaan dunia terhadap pangan berbasis protein nabati dan produk ramah lingkungan.
Ia menegaskan peningkatan standar sanitasi, keamanan pangan, kualitas pengemasan, dan pemasaran menjadi syarat utama agar tempe Indonesia mampu bersaing di pasar global.
Forum Tempe Indonesia juga terus membina perajin melalui pengembangan Rumah Tempe di Bogor sebagai pusat produksi yang higienis dan memenuhi standar ekspor.
Selain itu, Forum Tempe Indonesia bersama berbagai pemangku kepentingan tengah mengusulkan budaya tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Menurut Hardinsyah, pengakuan internasional akan memperkuat posisi tempe sebagai warisan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing dan nilai ekonomi produk tersebut.
Berdasarkan data Persistence Market Research yang dipaparkan Forum Tempe Indonesia, nilai pasar tempe global diproyeksikan meningkat dari sekitar 2,6 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 4,8 miliar dolar AS pada 2032, dengan laju pertumbuhan tahunan mencapai 9,1 persen.
Sementara itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk mempercepat swasembada kedelai, mulai dari penyediaan lahan, benih unggul, pupuk, irigasi, pembiayaan, hingga jaminan pasar. Sebagai langkah jangka pendek, pemerintah juga memberikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram melalui Perum Bulog untuk tahap awal sebanyak 250 ribu ton guna menjaga keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe.