Hadapi Tekanan Biaya, Hotel di NTB Pertahankan Tarif dan Gencarkan Promosi
-
BY
Bookingina
-
Source :
RRI
- DATE 06/11/2026
Wisata
11 Jun 2026 09:01
WIB
Mataram
Editor -
Hayatun Sofian
Ketua PHRI NTB Ketut Wolini saat di temui di ruang kerjanya dalam beberapa kesempatan. (Foto: RRI/Ahmad Yani)
RRI.CO.ID, Mataram – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai memberikan dampak berantai terhadap sektor perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski biaya operasional berpotensi meningkat, pelaku usaha hotel masih menahan kenaikan tarif kamar demi menjaga daya tarik kunjungan wisatawan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ketut Wolini, mengatakan kenaikan BBM pada dasarnya akan memengaruhi seluruh komponen biaya usaha, termasuk sektor perhotelan. Namun hingga saat ini, sebagian besar hotel di NTB belum melakukan penyesuaian harga kamar.“Kalau situasi sekarang, harga kamar hotel belum naik. Padahal kenaikan BBM tentu berpengaruh terhadap semua sektor. Namun kami masih berupaya menjaga harga agar tetap kompetitif,” ujarnya, Rabu 10 Juni 2026.Menurut Wolini, kondisi industri perhotelan saat ini justru menghadapi tantangan yang lebih besar akibat menurunnya angka kunjungan wisatawan dan melemahnya daya beli masyarakat. Situasi tersebut membuat tingkat hunian hotel mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.“Kalau dibandingkan tahun lalu, okupansi hotel memang menurun. Angka kunjungan turun, daya beli masyarakat juga menurun. Itu sangat berpengaruh terhadap usaha perhotelan,” katanya.Ia menjelaskan, di tengah tekanan biaya operasional dan menurunnya tingkat hunian, hotel-hotel di NTB memilih memperbanyak program promosi untuk menarik wisatawan daripada menaikkan tarif kamar.“Yang kami lakukan sekarang justru promosi-promosi agar wisatawan tetap tertarik datang ke NTB. Kami berusaha menjaga harga kamar supaya tidak memberatkan wisatawan,” ujar Wolini.Wolini juga menyoroti kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada berkurangnya kegiatan instansi di hotel. Selama ini, kegiatan rapat, seminar, maupun pertemuan pemerintah menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi industri perhotelan, khususnya hotel-hotel di kawasan perkotaan.“Kebijakan efisiensi tentu berpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan pemerintah yang biasanya dilaksanakan di hotel. Itu juga menjadi tantangan bagi kami saat ini,” ujarnya.Meski demikian, PHRI NTB memastikan seluruh pelaku usaha perhotelan, baik hotel resort maupun hotel kota, tetap optimistis menghadapi kondisi tersebut dengan terus meningkatkan pelayanan dan memperkuat strategi promosi destinasi. “Kami tetap bersemangat. Baik hotel resort maupun city hotel sama-sama berupaya bertahan dan mencari cara agar wisatawan tetap datang ke NTB,” kata Wolini.
Berita
Terbaru
Memuat berita terbaru.....