Ekonomi Melambat, PHRI Sebut Okupansi Hotel di Kaltim Sulit Tembus 60 Persen
-
BY
Bookingina
-
Source :
Tribunkaltim.co
- DATE 06/08/2026
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Industri perhotelan di Kalimantan Timur masih menghadapi tekanan berat sepanjang 2026.
Tekanan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti :
Kondisi ekonomi,
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah,
Melemahnya nilai tukar rupiah hingga
Pengurangan RKAB sektor pertambangan.
Sekretaris PHRI Kalimantan Timur, Febri Yudiono mengatakan, kondisi sektor perhotelan tahun ini cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: 4 Hotel di Balikpapan dan Samarinda Bakal Dijual, PHRI Akui Kondisi Laju Bisnis tak Baik-baik Saja
Menurutnya, dampak kebijakan efisiensi anggaran yang mulai terasa sejak 2025 masih berlanjut hingga sekarang.
Terlebih, situasi semakin berat saat nilai tukar rupiah melemah dan memicu kenaikan berbagai kebutuhan pokok serta biaya operasional usaha.
"Kalau dibandingkan dengan tahun 2025 sebenarnya kondisinya masih stagnan. Bahkan cenderung menurun dari tahun 2025 semenjak efek kebijakan anggaran," ungkapnya saat ditemui TribunKaltim.co di Sevensix Hotel Balikpapan, Senin (8/6/2026).
Ia juga menjelaskan, rata-rata okupansi hotel di Kalimantan Timur saat ini berada di kisaran 50 persen.
Menurutnya, angka ini cukup rendah bagi industri perhotelan yang selama ini bergantung pada perjalanan bisnis dan kegiatan pemerintahan.
"Rata-rata di Kaltim mungkin sekitar 50 persen. Menyentuh 60 persen saja mungkin agak sulit," ujarnya.
Terlebih, kata dia, berbeda dengan daerah tujuan wisata utama di Indonesia seperti Bali dan Yogyakarta, Kalimantan Timur masih didominasi pasar bisnis dan transit.
Tak ayal, kondisi tersebut membuat sektor perhotelan Kaltim tak bisa berharap banyak dari peningkatan kunjungan wisatawan saat nilai tukar rupiah melemah.
Febri juga mengatakan, satu-satunya daerah yang memiliki karakter kuat sebagai destinasi wisata di Kalimantan Timur adalah Berau. Sedangkan daerah lainnya masih bergantung pada aktivitas bisnis, pemerintahan, dan sektor pertambangan.
Sehingga, ketika ekonomi melambat, aktivitas perusahaan berkurang dan perjalanan dinas ditekan, dampaknya langsung terasa terhadap tingkat hunian hotel di beberapa wilayah Kaltim. Seperti Balikpapan, Samarinda, Sangatta, Bontang, Berau hingga Penajam Paser Utara.
"Kalau dibilang dampaknya bukan hanya hotel berbintang, untuk saat ini seluruh segmen berdampak, jadi merata," pungkasnya. (*)