TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Tekanan yang menghantam industri perhotelan Kalimantan Timur mulai memunculkan dampak serius.  Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Timur mengungkapkan sedikitnya terdapat empat hotel di Kota Balikpapan dan Kota Samarinda yang saat ini telah ditawarkan untuk dijual. Sekretaris PHRI Kalimantan Timur, Febri Yudiono mengatakan, hal tersebut menjadi salah satu indikator kondisi usaha perhotelan sedang menghadapi tantangan berat. Bahkan, saat ini, informasi penjualan hotel tersebut sudah masuk ke organisasi sebagai upaya mencari calon investor atau pembeli baru. Baca juga: Efisiensi Anggaran Pemerintah Hantam Perhotelan Kaltim, Okupansi Hotel Sempat Terkoreksi Tajam "Untuk saat ini yang sudah masuk informasinya ke PHRI itu ada empat," ujarnya saat ditemui TribunKaltim.co di Sevensix Hotel Balikpapan, Kalimantan Timur pada Senin (8/6/2026).  Ia membeberkan, empat hotel tersebut terdiri dari berbagai klasifikasi. Mulai dari hotel nonbintang, bintang 2, bintang 3, hingga bintang 4.  Menurutnya, keputusan menjual hotel ini merupakan gambaran nyata beratnya tekanan yang dihadapi pelaku usaha saat ini. Terlebih, selain tingkat hunian yang rendah, biaya operasional terus meningkat akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan.  EKONOMI KALTIM LESU - Ilustrasi laju bisnis perekonomian. Ada kebijakan efisiensi anggaran mempengaruhi laju bisnis perhotelan di Kalimantan Timur. (Grafis dengan AI Copilot) Kebijakan Efisiensi Anggaran Di sisi lain, pasar utama hotel di Kalimantan Timur yang berasal dari perjalanan bisnis juga ikut melemah akibat kebijakan efisiensi anggaran.  Tak ayal, kondisi tersebut mendorong sejumlah hotel melakukan berbagai langkah penghematan.  Beberapa hotel mulai mengurangi tenaga kerja, menerapkan sistem kerja dari rumah hingga merumahkan sebagian karyawan. "Kalau hotel-hotel berbintang tiga ke atas itu paling banyak terdampak, karena mereka jumlah pekerja lebih banyak dibandingkan hotel-hotel kecil," ungkap Sekretaris PHRI Kalimantan Timur, Febri Yudiono.  Febri juga mengatakan, PHK sebenarnya menjadi pilihan yang sangat dihindari pelaku usaha. Sebab dampaknya tak hanya dirasakan perusahaan, melainkan juga dapat mempengaruhi kondisi sosial dan ekonomi daerah. Baca juga: Sektor Migas dan Tambang Jadi Buruan Pencaker, Perhotelan Malah Sepi Peminat di JMF di Balikpapan Dengan begitu, peningkatan angka pengangguran dapat memicu efek berantai yang lebih luas terhadap perekonomian daerah. Untuk itu, kata dia, sebagian besar hotel saat ini masih berupaya mencari alternatif lain agar tidak melakukan pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar. Dia beberkan, kalau mau jujur, saat ini kondisinya sangat parah sebenarnya. Efek dominonya kemana-mana. "Kalau banyak yang di PHK, tingkat pengangguran akan meningkat, dan juga akan berpengaruh ke tingkat kriminalitas," pungkasnya. (*)