Home JATIM Editor: Mohamad Nur Khotib| Jumat 30-10-2026,12:53 WIB Archipelago Hotels rayakan Hari Dokter Nasional dengan Doctors Appreciation discount penawaran spesial -Dok. Archipelago Hotels - SURABAYA, HARIAN DISWAY – Industri perhotelan di Jawa Timur menghadapi tekanan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Kinerja bisnis hotel tercatat turun sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tingkat keterisian kamar atau okupansi pun masih tertahan di angka 40 persen. Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono mengungkapkan, penurunan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dampak bencana alam di berbagai daerah hingga dinamika politik yang memengaruhi aktivitas pariwisata. BACA JUGA:Target Okupansi Hotel di Puncak Libur Lebaran Meleset, Warga Tahan Diri Pelesiran BACA JUGA:Penumpang Kereta Lebaran 2026 Tembus 174 Ribu, Okupansi 108 Persen, Barang Hilang Meningkat "Ada koreksi untuk tahun ini. Kondisi bencana alam dan dinamika politik sangat mempengaruhi. Penurunannya sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu," kata Dwi kepada Harian Disway, Jumat, 30 Oktober 2026. Menurut Dwi, rata-rata okupansi hotel di Jawa Timur sepanjang triwulan I hingga III 2026 baru mencapai 40 persen. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pelaku usaha perhotelan untuk mendongkrak pendapatan menjelang akhir tahun. Terlebih, periode libur panjang akhir tahun biasanya menjadi momentum peningkatan kunjungan wisatawan. PHRI Jatim Siapkan Promosi dan Bursa Bisnis Untuk mengejar ketertinggalan, PHRI Jawa Timur menyiapkan sejumlah strategi pada triwulan IV 2026. Salah satunya memperbanyak promosi hotel dan menggelar kegiatan table top ke berbagai daerah potensial. Kegiatan tersebut merupakan forum bisnis antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B). Pengelola hotel dipertemukan secara langsung dengan agen perjalanan dan perusahaan yang berpotensi menjadi pelanggan. Melalui forum itu, pelaku industri perhotelan dapat menawarkan paket menginap, kerja sama perjalanan wisata, hingga kebutuhan akomodasi korporasi. BACA JUGA:Okupansi Kereta Api di Daop 8 Surabaya Capai 77 Persen Selama Libur Iduladha BACA JUGA:Tingkatkan Okupansi Hotel, Kemenparekraf Dorong Pelaku Perhotelan Siapkan Paket Diskon Ramadan dan Idulfitri "Sistemnya memakai round-robin. Seller tetap duduk di mejanya, sementara para buyer mengelilingi dan berganti meja setiap 7 menit sekali untuk bernegosiasi," terang Dwi. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Sumber: Berita Terkait