BALIKPAPAN – Tingkat hunian kamar hotel di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), masih berada di bawah 50 persen sepanjang 2026 meskipun kinerja industri perhotelan mulai membaik pada semester pertama. Kondisi ini mendorong pelaku usaha memperkuat inovasi dan menyiapkan strategi untuk mendongkrak permintaan menjelang libur akhir tahun. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badan Pimpinan Cabang (BPC) Balikpapan sekaligus Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Chapter Balikpapan, Derry Indra Wardhana, mengatakan perbaikan kinerja perhotelan belum mampu menyamai capaian pada tahun-tahun sebelumnya. “Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, khususnya semester pertama tahun 2026, memang sudah ada kenaikan, tetapi belum sebaik tahun-tahun sebelumnya,” kata Derry, Senin (19/10/2026), sebagaimana diberitakan Kotaku, Senin, (19/10/2026). Menurut Derry, tingkat okupansi yang masih rendah menunjukkan bahwa pemulihan industri perhotelan belum merata. Sejumlah hotel memang mulai mencatatkan peningkatan sesuai dengan segmen pasar masing-masing, tetapi kondisi tersebut belum cukup untuk mendorong tingkat hunian secara keseluruhan. Situasi ini membuat pengelola hotel perlu menyusun strategi yang tidak hanya mengandalkan persaingan harga. Inovasi produk, penyesuaian penawaran dengan kebutuhan konsumen, serta pengalaman menginap yang menarik dinilai penting untuk mempertahankan daya saing di tengah tekanan ekonomi. “Dalam keadaan apa pun, dunia usaha harus tetap inovatif, kreatif, dan optimistis,” ujarnya. Salah satu peluang untuk meningkatkan permintaan datang dari periode libur akhir tahun, terutama perayaan Tahun Baru. Pelaku industri perhotelan mulai menyiapkan berbagai langkah untuk memanfaatkan momentum tersebut, dengan harapan meningkatnya aktivitas perjalanan masyarakat dapat mendorong pemesanan kamar. “Kami sudah menyiapkan beberapa hal, terutama untuk menyambut Tahun Baru. Kami berharap musim liburan bisa membantu meningkatkan okupansi hotel,” katanya. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan masyarakat untuk membelanjakan uangnya dan melakukan perjalanan. Derry menilai, perkembangan ekonomi global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli, aktivitas perjalanan, serta keputusan konsumen dalam menggunakan layanan akomodasi. Tekanan ekonomi juga membuat pelaku usaha harus lebih cermat membaca kebutuhan pasar. Setiap hotel dituntut mengembangkan keunggulan sesuai karakteristik dan kemampuannya agar tetap menarik di tengah persaingan. Meski pemulihan masih menghadapi tantangan, Derry berharap perbaikan ekonomi dapat memberikan dampak positif bagi industri perhotelan Balikpapan pada tahun mendatang. “Kami tetap optimistis. Harapan kami, dalam Outlook tahun 2027 akan terjadi perbaikan. Kalau perkembangan ekonomi global meningkat, tentunya sektor perhotelan juga diharapkan ikut meningkat,” ujarnya. Dengan tingkat hunian yang masih di bawah 50 persen, momentum libur akhir tahun dan pembaruan strategi bisnis menjadi peluang bagi pelaku perhotelan untuk memperbaiki kinerja. Perbaikan yang lebih berkelanjutan tetap membutuhkan penguatan permintaan serta kondisi ekonomi yang mendukung aktivitas perjalanan masyarakat. [] Redaksi01 Post navigation