Ringkasan Berita: Pengurus BPC PHRI Kota Samarinda periode 2026-2031 resmi dilantik di Hotel Five Premiere Ketua PHRI Samarinda Leny Marlina menyoroti tantangan efisiensi anggaran fiskal pemerintah Kebijakan pembatasan belanja daerah berdampak pada penurunan kegiatan instansi di hotel PHRI mendorong kolaborasi dan inovasi acara mandiri untuk menjaga keberlangsungan bisnis TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Samarinda Periode 2026-2031 resmi dilantik di Hotel Five Premiere, Jalan Bhayangkara, Kecamatan Samarinda Kota, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (7/10/2026).  Di tengah momentum pelantikan tersebut, tantangan efisiensi anggaran fiskal pemerintah menjadi sorotan utama pengurus baru. Usai dilantik, Ketua BPC PHRI Samarinda, Leny Marlina, mengungkapkan bahwa kepengurusan baru ini dihadapkan pada tantangan ekonomi yang tidak mudah.  Baca juga: Daftar Daerah Mati Lampu Samarinda Hari Ini Rabu 7 Oktober 2026 Pukul 19.00 Wita, Estimasi 4 Jam Langkah efisiensi anggaran yang bergulir di tingkat pusat hingga daerah secara langsung menekan aktivitas bisnis di sektor jasa akomodasi.  Kondisi ini makin dipertegas oleh arahan Walikota Samarinda yang menekankan pembatasan belanja daerah secara ketat, di mana alokasi APBD kini difokuskan hanya untuk kebutuhan prioritas utama. "Bahwa belanja pemerintah sekarang ini sangat-sangat dibatasi dan belanja juga belanja prioritas yang paling utama," ujar Leny. Leny bilang, kebijakan pembatasan tersebut berdampak langsung pada berkurangnya alokasi agenda rapat maupun acara seremonial instansi pemerintah di hotel-hotel.  Oleh sebab itu, dia menyerukan kepada seluruh anggota PHRI di Samarinda agar tidak lagi menggantungkan keberlangsungan usaha pada kegiatan dinas.  Ia mendorong para pengelola perhotelan dan restoran untuk saling berkolaborasi serta merancang berbagai acara, maupun agenda hiburan secara mandiri demi menyedot kedatangan tamu dari luar daerah. "Tapi coba kita saling berkolaborasi, membangun inovasi, misalkan tuh kita bikin kegiatan-kegiatan atau event-event secara mandiri," tuturnya. Lebih lanjut, kata Leny, inovasi dan keberanian industri perhotelan dalam menggelar acara secara mandiri diyakini menjadi salah satu kunci dalam menjaga iklim bisnis akomodasi tetap bergairah. Pelaksanaan berbagai kegiatan swadaya tersebut tidak hanya menyelamatkan operasional hotel dan restoran di tengah efisiensi anggaran, tetapi juga memberi dorongan positif bagi pergerakan roda perekonomian Kota Samarinda secara menyeluruh. "Nah, tentu kalau kegiatan-kegiatan itu bisa kita laksanakan, secara otomatis itu akan mendatangkan dampak positif bagi Kota Samarinda," pungkas Leny. (*)