Denpasar - Ratusan hotel di Bali ditawarkan untuk dijual melalui sejumlah platform jual beli properti online. Hotel yang ditawarkan tersebar di sejumlah daerah, mulai dari Badung, Tabanan, Gianyar hingga Karangasem, dengan harga mencapai puluhan miliar rupiah.Di platform jual beli dan sewa properti online seperti Lamudi, misalnya, terdapat ratusan hotel maupun vila dengan kelas dan harga yang beragam yang ditawarkan untuk dijual. Penawaran serupa juga ditemukan di platform OLX dengan jumlah yang cukup banyak.Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengatakan banyaknya hotel yang dijual dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya tingkat hunian yang rendah, keputusan internal pemegang saham, pemilik yang ingin mengetahui nilai propertinya, hingga tidak mampu mengoperasikan hotel. SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT "Bisa saja pertama mungkin tingkat hunian yang terendah. Kedua mungkin juga karena internal dari pemegang saham ingin menjual. Ketiga, ada yang ingin mengetes harganya, berapa nilai propertinya mereka. Keempat mungkin juga karena tidak bisa mengoperasikan," kata Rai saat dihubungi detikBali, Senin (21/9/2026).Menurutnya, penjualan hotel juga merupakan hal yang wajar dalam bisnis properti. Pemilik bisa saja memilih menjual asetnya untuk kemudian berinvestasi atau membangun usaha di tempat lain."Jadi dari perspektif kita biasanya jual-beli itu wajar. Tapi orang akan bangun di tempat lain, bisa saja. Itu kembali kepada masing-masing," imbuhnya.Namun, PHRI juga mempertanyakan banyaknya properti akomodasi yang kini ditawarkan untuk dijual. Kondisi tersebut dinilai perlu dilihat dalam kaitannya dengan situasi ekonomi dan perkembangan pariwisata Bali."Kalau dari kita itu ada juga kita berpikir apakah dengan jumlah yang cukup besar, kenapa seperti itu. Apakah karena situasi dan kondisi ekonomi seperti ini, sehingga mereka memutuskan untuk menjual propertinya," kata Ketua PHRI Badung itu.Di sisi lain, Rai menilai kondisi pariwisata Bali saat ini juga perlu menjadi perhatian karena wisatawan yang datang tidak seluruhnya memiliki daya beli tinggi. Sebagian wisatawan memilih akomodasi berdasarkan kemampuan dan anggaran yang dimiliki."Wisatawan yang datang itu artinya wisatawan yang middle low. Sehingga dia menyasar tempat menginap atau akomodasi yang disasar adalah sesuai dengan budgetnya mereka," jelasnya.Wisatawan dengan segmen tersebut, kata dia, tidak selalu menginap di hotel berbintang. Mereka dapat memilih pondok wisata, guesthouse, kos-kosan, rumah kontrakan, hingga hotel bintang tiga ke bawah.Menurut Rai, kondisi tersebut perlu diimbangi dengan upaya pemerintah mendatangkan wisatawan dengan daya beli lebih tinggi. Selama ini, upaya mendatangkan wisatawan berkualitas ke Bali hanya menjadi wacana saja"Maka dari itu, ini jangan jadi wacana untuk mendatangkan wisatawan yang berkualitas, jangan hanya wacana saja. Kita harus tetapkan, lakukan terobosan-terobosan yang bisa mendatangkan wisatawan yang berkualitas itu," tegasnya.Rai menyebut pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata, perlu melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan berkualitas ke Bali dan Indonesia. Menurutnya, promosi juga perlu diperkuat untuk menghadapi persaingan dengan negara lain di kawasan seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia."Khususnya kementerian pariwisata harus melakukan terobosan-terobosan yang luar biasa. Bagaimana caranya meningkatkan kunjungan wisatawan yang berkualitas untuk ke Bali dan Indonesia tentunya," tandasnya.Ia berharap pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan pariwisata dapat memperkuat promosi sekaligus melakukan pembenahan internal. Hal ini termasuk mengatasi persoalan kemacetan, menjaga kebersihan lingkungan, serta meningkatkan keamanan di Bali."Bagi saya, visi pemerintah Bali ingin menjadikan Bali tujuan wisatawan dunia yang berkualitas dan bermartabat harus dibarengi dengan langkah-langkah konkret, langkah strategis dan konkret dalam meningkatkan hal-hal tersebut," tutupnya. (hsa/hsa)