InJourney bersama ITDC dan Pemprov NTB saat mengecek langsung kesiapan Pertamina Mandalika International Circuit, The Mandalika. Foto: InJourney. Lombok Tengah: Indonesia berkomitmen menghadirkan pengalaman wisata kelas dunia dalam penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Pertamina Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Komitmen tersebut diperkuat melalui kolaborasi InJourney, Pemerintah Provinsi NTB, ITDC, serta pelaku industri pariwisata. Kolaborasi diarahkan untuk memastikan peningkatan kunjungan wisatawan selama penyelenggaraan MotoGP diimbangi kesiapan ekosistem pariwisata. Kesiapan tersebut mencakup akomodasi, konektivitas, layanan, hingga beragam pengalaman wisata yang dapat dinikmati pengunjung di NTB. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB Ni Ketut Wolini mengatakan tingkat okupansi akomodasi di NTB menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 telah mendekati 100 persen. "Tingkat okupansi menjelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 sudah nyaris mencapai 100 persen dan akan terus meningkat seiring semakin dekatnya pelaksanaan event. Ini menunjukkan tingginya antusiasme dan permintaan terhadap akomodasi di NTB selama periode penyelenggaraan," ujar Ni Ketut Wolini, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 19 September 2026. Menurut Wolini, tingginya permintaan akomodasi menjadi momentum bagi pelaku industri pariwisata untuk menjaga kualitas layanan dan memberikan pengalaman terbaik kepada wisatawan. Kolaborasi antarpemangku kepentingan diharapkan memperluas pengalaman wisatawan, tidak hanya di area sirkuit. Pengunjung juga diarahkan dapat menikmati destinasi wisata, produk ekonomi kreatif, kuliner, serta pengalaman budaya yang tersedia di NTB.   InJourney tambah 66 penerbangan Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan Pertamina Grand Prix of Indonesia bukan sekadar ajang olahraga internasional, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan pariwisata Indonesia. "Pertamina Grand Prix of Indonesia bukan sekadar event olahraga internasional, tetapi merupakan katalis bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia. Ketika kita kehilangan event berskala global, kita berisiko kehilangan momentum pertumbuhan pariwisata, peningkatan ekonomi daerah dan devisa, sekaligus nation branding Indonesia. Untuk itu, kami memastikan keberlanjutan dan kualitas penyelenggaraan event ini menjadi kepentingan bersama," jelas Maya. Maya mengatakan pengembangan pariwisata di The Mandalika membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat maupun daerah, kementerian dan lembaga, serta pelaku industri. "Dibutuhkan concerted efforts dan semangat gotong royong dari seluruh stakeholder baik di daerah dan pusat, kementarian/lembaga, hingga pelaku industri," tambah Maya. Dalam rapat koordinasi persiapan MotoGP 2026, sejumlah hal turut dibahas, termasuk konektivitas, kesiapan akomodasi, dan penyerapan tenaga kerja. "Dalam diskusi hari ini, berbagai isu kami uraikan dan carikan solusi bersama termasuk konektivitas. Pada periode pekan ajang balap Grand Prix of Indonesia 2026 ini kami mencatat adanya tambahan 66 penerbangan dari dan ke NTB dan hampir semuanya merupakan pesawat berbadan besar atau wide body," ujar Maya. (Persiapan penyelenggaraan MotoGP Indonesia 2026 di Sirkuit Pertamina Mandalika. Foto: dok InJourney) MotoGP jadi panggung talenta Indonesia Penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia juga menjadi bagian dari pengembangan talenta lokal. Tahun ini, dua pembalap Indonesia dijadwalkan tampil dalam ajang tersebut. Maya mengatakan pengembangan sumber daya manusia lokal juga dilakukan melalui keterlibatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan balapan internasional. "Kami terus berkomitmen meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal, seperti marshal dari NTB yang telah mendapat kesempatan berkiprah di Malaysia, Jepang, hingga Australia. Inilah legacy yang ingin terus kita bangun untuk mewujudkan Mandalika Mendunia, pariwisata yang terus tumbuh, dan semakin banyak generasi-generasi muda Indonesia yang juga berkarya dan berkiprah," ujar Maya. Sementara itu, Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 sekaligus Direktur Operasi ITDC Troy Warokka mengatakan persiapan memasuki fase eksekusi. Seluruh workstream diarahkan bergerak berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. "Kita sudah memasuki fase eksekusi. Kita tidak hanya melihat kesiapan melalui laporan, tetapi juga memastikan langsung kondisi di lapangan. Setiap workstream harus bergerak dalam satu timeline, setiap kebutuhan yang masih perlu diselesaikan harus segera dituntaskan, dan setiap isu harus memiliki PIC serta target penyelesaian yang jelas. Standar kita bukan sekadar event terlaksana, tetapi event yang aman, lancar, berkualitas, dan memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh pihak," papar Troy.Kesiapan lintasan balapan jadi prioritas  Direktur Utama MGPA Ananda Mikola mengatakan kesiapan lintasan dan sistem pendukung balapan menjadi prioritas menjelang homologasi serta race week. "Track inspection hari ini menjadi bagian dari pengecekan kesiapan lintasan menuju homologasi. Kami memastikan pekerjaan track maintenance, fasilitas keselamatan, race electronic, hingga seluruh sistem pendukung terus berjalan sesuai kebutuhan. Target kami bukan hanya memastikan sirkuit siap, tetapi seluruh operasional balap juga siap. Keselamatan dan pemenuhan standar penyelenggaraan menjadi prioritas utama," ujar Ananda. Dari sisi sumber daya operasional balapan, sebanyak 400 marshal disiapkan. Mereka akan mengikuti pelatihan pada 5-8 Oktober 2026 yang terdiri atas dua hari pelatihan di kelas dan dua hari pelatihan lapangan. Pergerakan logistik internasional juga telah dimulai. Dari total 27 kontainer sea freight, sebanyak 13 kontainer telah tiba. Sementara itu, lima penerbangan air freight dijadwalkan tiba pada 5-6 Oktober 2026. Kru, Dorna, dan pembalap dijadwalkan mulai berdatangan pada awal Oktober. Kesiapan penyelenggaraan juga mencakup mobilitas penonton, pengamanan, dan layanan kesehatan. Sebanyak 118 shuttle disiapkan untuk mendukung mobilitas di dalam kawasan selama 9-11 Oktober 2026. Selain itu, Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan 35 shuttle untuk mendukung transportasi di luar kawasan. Dari sisi pengamanan, ITDC menyiapkan 170 personel keamanan dan 550 personel pengendalian massa yang akan bekerja secara terintegrasi bersama pemangku kepentingan terkait. Sementara untuk layanan medis, kesiapan mencakup personel dan peralatan medis, helikopter medis, layanan rujukan, hingga kebutuhan Mini ICU VIP.