Bisnis.com, SURABAYA – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak melanda sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Timur mulai berdampak pada sektor pariwisata di wilayah setempat. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut tingkat okupansi hotel di sejumlah wilayah destinasi wisata menurun hingga 20%. Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono menjelaskan tingkat keterisian kamar hotel di wilayah Jawa Timur secara umum rata-rata mencapai 20%-25%. Penurunan signifikan tersebut, lanjut dia, terasa pada pekan ini di sejumlah wilayah yang terdampak bencana karhutla, seperti Malang, Kota Batu, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.  "Di awal belum terasa karena wisatawan sudah memesan sejak pekan sebelumnya. Namun memasuki pekan ini, okupansi turun dari rata-rata 60% menjadi 40%," ungkap Dwi, Rabu (9/9/2026). Ia menyebut para pelaku jasa pariwisata yang berdekatan dengan titik bencana, seperti Lumajang dan Banyuwangi, merasakan dampak yang signifikan. Di wilayah tersebut, Dwi menjelaskan penurunan aktivitas wisata dan okupansi bahkan sampai menembus angka 60%-80%.Baca JugaEfek Domino Abu Vulkanik Anak Krakatau, Maskapai Macet Pariwisata TerdampakProyeksi Pariwisata Akhir 2026 Positif Meski Dibayangi Tantangan GlobalPariwisata Masuki Fase Pemulihan Dengan status buka-tutup kawasan wisata yang strategis, seperti Kawah Ijen dan Gunung Bromo, para calon wisatawan memilih untuk menunggu situasi mereda. Dwi menyebut kondisi tersebut sangat berdampak pada rencana perjalanan para pelancong. "Bisnis pariwisata ini sangat bergantung pada kepercayaan. Bagi wisatawan, khususnya rombongan, ketidakpastian ini berisiko tinggi. Walaupun mayoritas saat ini masih memilih reschedule, tetapi bila ketidakpastian berlangsung hingga pekan depan, tidak menutup kemungkinan opsi tersebut bisa berubah menjadi pembatalan," ungkapnya. Tak hanya usaha perhotelan, Dwi mengungkapkan bencana karhutla juga turut berdampak pada seluruh ekosistem pendukung pariwisata, seperti objek wisata, agensi perjalanan, restoran, hingga para pelaku UMKM yang kebanyakan adalah warga lokal.  Guna menekan kerugian yang semakin memukul pelaku usaha pariwisata, PHRI Jatim berharap adanya langkah konkre Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. t serta intervensi dari pemerintah daerah. Asosiasi mengusulkan adanya skema insentif berupa program bundling harga, potongan harga tiket masuk destinasi alternatif, hingga subsidi atau stimulus bagi para pelaku usaha terdampak. "Ketika destinasi utama ditutup karena kondisi alam, harus ada alternatif destinasi pengganti dengan kompensasi. Misalnya diskon tiket atau paket khusus. Kami berharap pemerintah bisa hadir memberikan kemudahan agar wisatawan tidak terlalu kecewa dan teman-teman pelaku jasa pariwisata tetap bisa bertahan," harapnya. Untuk meminimalisasi kerugian yang diderita akibat penutupan destinasi wisata imbas bencana alam, Dwi menyebut pihaknya menyarankan kepada pelaku usaha jasa pariwisata di wilayah terdampak untuk dapat menangguhkan program kerja maupun promosi yang tidak dirasa terlalu perlu untuk dilakukan. Tak hanya itu, pelaku usaha juga diharapkan dapat menggagas penawaran program-program pariwisata baru dengan bundling paket yang telah tersedia. Dwi juga mengatakan alternatif yang bisa ditawarkan oleh pengusaha pariwisata di wilayah terdampak bencana antara lain seperti paket wisata minat khusus. "Antisipasi jika hal ini terus berlangsung, kita tangguhkan dahulu program dan promosi yang tidak terlalu mendesak. Teman-teman pelaku usaha jasa wisata bisa menyusun program baru bersama dengan bundling paket sembari menginformasikan update situasi ke konsumen," paparnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel