POTENSI EKONOMI: Keramaian warga saat CFD diharapkan bisa mendorong usaha UMKM, ekonomi kreatif, hingga pariwisata dan perhotelan. ULIL/KP KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kegiatan Car Free Day (CFD) diharapkan tidak hanya menjadi ruang masyarakat berolahraga dan rekreasi. Keramaian warga yang hadir harus dimanfaatkan untuk memaksimalkan potensi ekonomi dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ekonomi kreatif, hingga pariwisata dan perhotelan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto mengatakan, CFD bisa menjadi salah satu instrumen yang dapat memperkuat perputaran ekonomi masyarakat. Kegiatan yang menghadirkan banyak orang dalam satu kawasan secara otomatis menciptakan pasar bagi berbagai jenis usaha, mulai dari kuliner, fesyen, kerajinan, produk kreatif, jasa hingga pertunjukan seni. “Ruang publik itu sebenarnya bisa menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan pelaku usaha. Kalau dikelola dengan baik, bukan hanya masyarakat yang mendapatkan ruang untuk beraktivitas, tetapi UMKM juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan dan menjual produknya,” ucap Soegianto, kemarin (26/8). Baca Juga: Kemiskinan, Baznas dan CSR Ia menilai konsep tersebut sejalan dengan kebutuhan Balikpapan untuk memperkuat ekonomi lokal di tengah tantangan sektor usaha, termasuk industri perhotelan. Menurutnya, geliat ekonomi tidak dapat hanya bertumpu pada satu sektor, melainkan harus dibangun melalui keterhubungan antarpelaku usaha. CFD, kata dia, memiliki keunggulan karena mampu menghadirkan konsentrasi masyarakat dalam jumlah besar tanpa harus menciptakan ruang komersial baru. Ketika aktivitas masyarakat meningkat, peluang transaksi juga ikut terbuka. “Kalau orang datang ke CFD, mereka bukan hanya olahraga. Ada yang membeli makanan, minuman, pakaian, kerajinan atau produk lainnya. Ada juga yang menikmati pertunjukan. Artinya, banyak sektor yang bisa bergerak bersamaan,” katanya. Bagi Soegianto, pola seperti ini penting untuk dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terarah. Pelaku UMKM tidak cukup hanya diberi tempat untuk berjualan, tetapi juga perlu didorong meningkatkan kualitas produk, kemasan, pelayanan, pemasaran dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen. Baca Juga: Bisnis Batu Bara Mulai Beralih ke Pangan, Pabrik Jagung Disiapkan di Samboja Hal tersebut menjadi penting karena ruang publik pada akhirnya juga dapat berfungsi sebagai etalase produk lokal. Produk yang diperkenalkan kepada masyarakat tidak berhenti pada transaksi di lokasi CFD, tetapi berpotensi memperoleh pelanggan baru setelah kegiatan selesai. “Yang perlu diperhatikan adalah kualitasnya. Jangan hanya banyak yang berjualan, tetapi produknya juga harus bagus, menarik dan mampu bersaing. Kalau kualitasnya baik, masyarakat akan datang kembali dan produk tersebut bisa berkembang ke pasar yang lebih luas,” jelasnya. Soegianto menegaskan, hubungan antara industri perhotelan dengan UMKM sebenarnya sudah berlangsung dan memiliki ruang pengembangan yang sangat besar. Hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga dapat berperan sebagai pasar bagi produk lokal. Sebelumnya, PHRI Balikpapan telah mendorong hotel-hotel anggotanya untuk menjalin kerja sama dengan UMKM. Sejumlah hotel memanfaatkan produk lokal untuk kebutuhan tamu, mulai dari produk kuliner, fesyen, aksesori hingga cendera mata. Menurut Soegianto, pola tersebut memberikan manfaat dua arah. Hotel memperoleh variasi produk yang dapat memperkaya pengalaman tamu, sementara UMKM mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan kesempatan memperkenalkan produknya kepada konsumen dari luar daerah. “Hampir semua hotel sudah ada kerja sama dengan UMKM. Ada yang produknya ditempatkan di kamar, di lobi, ada juga yang menjadi bagian dari oleh-oleh atau produk yang bisa dibeli tamu,” ungkapnya. Kolaborasi tersebut menjadi semakin strategis bagi Balikpapan yang memiliki posisi sebagai kota jasa, pintu gerbang menuju berbagai wilayah di Kaltim, sekaligus salah satu kota penyangga aktivitas Ibu Kota Nusantara (IKN). Baca Juga: Harga Semen di Sumut Masih Tinggi, KPPU Bongkar Rantai Pasok dari Pabrik hingga Toko Ketika tamu dari luar daerah datang ke Balikpapan, rantai belanjanya tidak semestinya berhenti di hotel. Tamu dapat diarahkan untuk mengenal kuliner lokal, produk kerajinan, destinasi wisata, pertunjukan seni dan berbagai produk ekonomi kreatif. Harapannya, semakin lama seorang wisatawan tinggal di Balikpapan, semakin besar pula potensi belanja yang tersebar ke berbagai sektor ekonomi. Kondisi ini juga berkaitan langsung dengan kepentingan industri perhotelan. Soegianto sebelumnya menyampaikan bahwa sektor hotel masih menghadapi tantangan okupansi pada 2026, terutama akibat berkurangnya aktivitas perjalanan dinas dan kegiatan pemerintahan pada awal tahun. Memasuki Juli dan Agustus, permintaan mulai membaik seiring meningkatnya kegiatan berskala besar yang mendatangkan peserta dari luar daerah. Pun begitu, dia berkata, kegiatan MICE tetap jadi urat nadi. Sehingga diharapkan kondisi ekonomi segera pulih dan kegiatan pemerintahan pun bisa berlangsung kembali di hotel. Baca Juga: Balap Liar di Balikpapan Bikin Warga Resah, 33 Pemuda dan 26 Motor Diamankan Polisi "September hingga akhir tahun nanti kita coba monitoring lagi, semoga okupansi kembali naik. Karena di hotel pun saat kami ada launching produk atau kegiatan itu tidak hanya mengundang tamu, juga menampilkan UMKM maupun pelaku seni, seperti band-band lokal untuk menampilkan live music," bebernya. (*) Editor : Nugroho Pandu Cahyo