Ilustrasi kamar hotel. Foto: Pixabay/StuBaileyPhotoBRIBIN NEWS (CIREBON) - Maraknya pembangunan hotel berbintang di Kota Cirebon tahun ini mendapat perhatian serius dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon.Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cirebon, diketahui terdapat 5 hotel kelas berbintang yang tengah dan akan dibangun tahun ini.Ketua PHRI Kota Cirebon, Kiki Reza mengatakan, sebagian besar hotel tersebut sudah memulai pembangunannya, dan direncanakan akan launching dan mulai beroperasi tahun depan.Ia mendesak adanya moratorium untuk penerbitan izin hotel baru di Kota Cirebon di masa mendatang."Yang sudah berizin ya sudah. Tetapi ke depan sebaiknya ada moratorium," kata Kiki kepada Cirebon Bribin, Senin, 3 Agustus 2026.Menurutnya, maraknya pembangunan hotel baru memang menunjukkan bahwa Kota Cirebon memiliki daya tarik investasi.Diakuinya pula hadirnya hotel-hotel baru ini juga berdampak positif karena membuka banyak lapangan kerja.Namun, di sisi lain, penambahan hotel baru bisa berpotensi memicu persaingan kian sengit."Jadi memang investasi di Kota Cirebon kelihatannya sangat menarik. Tapi kalau dari sisi persaingan, lagi tidak sehat," ujarnya.Ia lantas membeberkan kinerja industri perhotelan sepanjang 2025 tidak sesuai proyeksi.Harapan adanya perbaikan pada 2026 pun belum terwujud.Bahkan, kondisi tahun ini dinilai lebih buruk dibanding tahun sebelumnya."Tahun kemarin kurang begitu bagus proyeksinya. Tahun ini harapannya lebih baik dari tahun kemarin, tapi ternyata tidak. Tahun ini lebih jelek, tahun ini lebih hancur," kata Kiki.PHRI Kota Cirebon mencatat tingkat okupansi kamar hotel sepanjang 2025 hanya berada di kisaran 40-50 persen.Angka tersebut masih berada di bawah tingkat ideal yang dinilai aman bagi operasional hotel, yakni sekitar 60 persen. "Kalau hotel itu amannya di angka 60-an. Tahun ini sampai sekarang proyeksinya masih sama, masih di kisaran 40 persen," ungkap Kiki.Kondisi serupa juga terjadi pada sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), yang permintaannya terus melemah."MICE-nya lebih parah dari tahun kemarin. Tahun ini, dari awal tahun, teman-teman tidak ada yang mencapai target," katanya.Menurut Kiki, melemahnya okupansi hotel dan kegiatan MICE lebih dipengaruhi kuat dampak dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.Dampaknya paling terasa pada berkurangnya kegiatan MICE yang diselenggarakan kementerian maupun instansi pemerintah daerah.Ia menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya hotel sudah dapat memetakan agenda MICE pemerintah sejak awal tahun.Namun pada 2026, sebagian besar agenda tersebut tidak lagi diselenggarakan."Kita itu setiap tahun agendanya sudah tahu. Mereka antara tetap di Kota Cirebon atau di tempat lain. Tapi tahun ini di tempat kita tidak ada, di tempat lain juga tidak ada. Jadi memang benar-benar acara itu tidak ada," jelasnya.Kiki menambahkan, jika sebelumnya dalam setahun bisa mencapai sekitar 10 kegiatan, kini hanya tersisa sekitar satu kegiatan.Berdirinya hotel-hotel baru di tengah merosotnya okupansi ini juga dikhawatirkan akan memicu persaingan tarif.Menurut Kiki, hotel-hotel baru umumnya menawarkan tarif promosi untuk menarik tamu. Kondisi ini memaksa hotel-hotel lama menurunkan tarif demi menjaga keberlangsungan usaha.Sebagai contoh, Kiki menyebutkan, tarif kamar hotel sekelas bintang tiga di Kota Cirebon memasang pada kisaran Rp400 ribu hingga Rp500 ribu dari tarif sebelumnya Rp700 ribu-Rp800 ribu per malam. (CB-005)