KLIKNUSAE.com — Upaya pencegahan penyakit tidak menular tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Langkah paling mendasar justru dimulai dari pola konsumsi pangan yang sehat dan pengelolaan makanan yang aman. Pesan itu disampaikan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ira Dewi Djani, saat membuka Kursus Keamanan Pangan Siap Saji bagi Penanggung Jawab/Pengelola dan Penjamah Pangan TPP 2026. Acara pelatihan tersebut berlangsung di Sari Ater Kamboti, Jalan Lemah Nendeut No. 7, Kota Bandung, Selasa, 28 Juli 2026. Menurut Dewi, meningkatnya kasus penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung harus diantisipasi melalui perubahan pola konsumsi masyarakat. Karena itu, kepedulian terhadap pengelolaan pangan yang aman dan sehat, sekaligus memperhatikan konsumsi ramah GGL (Gula, Garam, dan Lemak), menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. “Upaya pencegahan penyakit tidak menular berawal dengan pola konsumsi pangan sehat. Oleh sebab itu, rasa kepedulian terhadap pengelolaan pangan yang aman dan sehat dengan memperhatikan pola konsumsi ramah GGL menjadi sangat penting,” ujar Dewi. Ia menambahkan, predikat Kota Bandung sebagai salah satu destinasi kuliner nasional harus diiringi dengan jaminan keamanan pangan. Dimana, selama ini diproduksi oleh seluruh pelaku usaha makanan dan minuman. Menurutnya, kualitas kuliner tidak hanya ditentukan oleh cita rasa, tetapi juga oleh penerapan standar higiene dan sanitasi. Para peserta kurus Penjamah Pangan 2026 mengikuti sesi foto bersama. (Foto: Kliknusae.com/Iman) Meningkatkan Kompetensi “Kota Bandung sebagai Kota Kuliner diawali dengan produksi pangan yang memenuhi kaidah Higiene Sanitasi Makanan. Hal ini dibuktikan dengan kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLS/SLHS),” katanya. Dewi berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan kompetensi para penanggung jawab maupun penjamah pangan. Utamanya, dalam menerapkan standar keamanan pangan di tempat usaha masing-masing. Dengan demikian, masyarakat memperoleh makanan yang tidak hanya lezat, tetapi juga aman untuk dikonsumsi. Sementara itu, Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Dodi Ahmad Sofiandi, mengatakan keamanan pangan harus menjadi budaya kerja. Harus,  melekat di seluruh industri perhotelan dan restoran. Menurutnya, kualitas pelayanan tidak dapat dipisahkan dari komitmen menjaga keamanan pangan bagi konsumen. “Kami terus mendorong keamanan pangan sebagai budaya kerja, kualitas sebagai komitmen. Dan pelayanan prima sebagai identitas industri hospitality Indonesia,” ujar Dodi. Ketua BPD PHRI Jawa Barat Dodi Ahmad Sofiandi (kiri) saat hadir dalam pembukaan Kursus Penjamah Pangan di Sari Ater Kamboti, Kota Bandung, Selasa 28 Juli 2026. (Foto: Kliknusae.com/Iman) Manfaat Nyata Ia berharap seluruh peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama pelatihan sehingga memberikan manfaat nyata bagi perusahaan, masyarakat. Sekaligus meningkatkan daya saing industri perhotelan dan restoran di Jawa Barat. “Semoga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara nyata di lingkungan kerja masing-masing. Dan memberikan manfaat bagi perusahaan, masyarakat. Serta kemajuan industri perhotelan dan restoran di Jawa Barat,” tuturnya. Sedangkan lelatihan penjamah makanan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BPD PHRI Jawa Barat dan Dinas Kesehatan Kota Bandung. Sementara tujuannya adalah sebagai upaya meningkatkan standar keamanan pangan pada sektor jasa boga, restoran, dan hotel. Menutup sambutannya, Dodi mengajak seluruh pelaku industri untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun sektor pariwisata dan hospitality yang berkualitas melalui slogan. “Bersama PHRI BPD Jawa Barat, Maju Bersinergi, Bandung Utama,” tegasnya. ***