Paradoks Hotel Kota Malang di Tengah Gejolak Ekonomi Global: Okupansi Stabil, Revenue Tertekan
-
BY
Bookingina
-
Source :
Lentera.co
- DATE 07/18/2026
MALANG (Lentera) - Industri perhotelan di Kota Malang menghadapi paradoks di tengah gejolak ekonomi global sepanjang 2026. Di satu sisi, tingkat okupansi hotel tetap stabil bahkan ditopang meningkatnya kunjungan wisatawan asing. Di sisi lain, pendapatan (revenue) hotel justru tertekan akibat membengkaknya biaya operasional, sementara pelaku usaha belum berani menaikkan tarif kamar."Kalau pengaruhnya ke tingkat okupansi, alhamdulillah tidak. Tetapi kalau di tingkat revenue hotel memang agak menurun," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, Sabtu (18/7/2026).Menurutnya, penurunan pendapatan bukan disebabkan oleh berkurangnya jumlah tamu, melainkan meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung hotel.Agoes menjelaskan, sejumlah komponen biaya mengalami kenaikan, mulai dari harga berbagai kebutuhan operasional hingga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi beban pengeluaran hotel."Karena harga-harga itu terdampak, berpengaruh. Kalau harga naik, itu berpengaruh. Kemudian kalau BBM naik juga bisa berpengaruh. Kami menggunakan solar non-subsidi yang itu juga naik," katanya.Selain itu, industri perhotelan juga sempat menghadapi tantangan akibat pemadaman listrik bergilir yang terjadi beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut membuat hotel harus mengandalkan sumber listrik cadangan yang membutuhkan biaya operasional lebih besar."Makanya waktu kemarin sempat ada listrik yang sering mati, kami cukup terpengaruh," ungkapnya.Meski biaya operasional meningkat, Agoes mengaku sebagian besar hotel belum berani menaikkan tarif kamar. Pasalnya, penyesuaian harga dinilai berpotensi menurunkan daya saing hotel di tengah ketatnya persaingan industri pariwisata.Di sisi lain, PHRI Kota Malang justru mencatat adanya peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang menginap di sejumlah hotel selama tahun ini. Fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang ikut menjaga tingkat okupansi hotel tetap stabil.Agoes menilai meningkatnya kunjungan wisatawan asing kemungkinan berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi wisatawan mancanegara."Tetapi herannya sekarang ini wisatawan asing banyak. Saya berpikir apakah ini gara-gara rupiah yang melemah. Karena di salah satu hotel yang berada di tengah Kota Malang, tamu-tamunya didominasi orang luar negeri," jelasnya.Ia menyebut jumlah wisatawan asing yang datang ke Kota Malang tahun ini juga lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. "Iya, lebih banyak," katanya saat disinggung mengenai tren kunjungan wisatawan mancanegara.Dengan kondisi tersebut, Agoes menegaskan tantangan utama industri perhotelan saat ini bukan pada penurunan tingkat hunian, melainkan meningkatnya biaya operasional yang berdampak terhadap margin usaha.Meski demikian, Agoes menilai situasi industri perhotelan kini mulai menunjukkan perbaikan. Pasokan listrik sudah kembali normal dan sektor pariwisata masih mampu menjaga pergerakan kunjungan wisatawan ke Kota Malang."Tetapi yang jelas sudah mulai pulih. Sekarang listrik juga sudah aman. Untungnya juga sektor pariwisata masih bagus," pungkasnya. (*)Reporter: Santi WahyuEditor: Lutfiyu Handi