Sejumlah agenda berskala nasional menjadi angin segar bagi industri perhotelan di Kabupaten Sleman. Gelaran Prambanan Jazz Festival 2026 dan Jogja Mandiri Marathon berhasil mendorong lonjakan tingkat hunian hotel hingga mencapai kapasitas penuh pada akhir Juni lalu. Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman, Andhu Pakerti, mengatakan okupansi hotel anggota PHRI menyentuh angka 100 persen selama penyelenggaraan Prambanan Jazz. Sementara pada Jogja Mandiri Marathon yang digelar sepekan sebelumnya, tingkat hunian berada di kisaran 80 hingga 90 persen. “Selama libur sekolah dan akhir pekan dua minggu terakhir, hotel-hotel anggota kami penuh saat Prambanan Jazz berlangsung. Sebelumnya, ketika Jogja Mandiri Marathon digelar, okupansinya juga sangat tinggi,” ujar Andhu. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan bahwa penyelenggaraan event masih menjadi faktor utama yang mampu menarik wisatawan datang ke Sleman sekaligus menggerakkan sektor perhotelan dan pariwisata. Meski demikian, Andhu melihat adanya perubahan pola perjalanan wisata masyarakat akibat tekanan ekonomi. Banyak wisatawan kini lebih memilih perjalanan singkat tanpa menginap atau memanfaatkan rumah keluarga, teman, maupun guest house sebagai alternatif akomodasi yang lebih terjangkau. “Sebagian wisatawan memilih pulang di hari yang sama atau menginap di rumah kerabat. Pola ini dipengaruhi kondisi ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati mengatur pengeluaran,” katanya. Ia memperkirakan tren tersebut masih akan berlanjut apabila kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih. Pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya harga kebutuhan pokok membuat anggaran untuk berwisata menjadi salah satu pos yang paling mudah dikurangi. “Ketika kebutuhan sehari-hari semakin mahal, masyarakat cenderung menekan pengeluaran untuk hiburan, termasuk biaya menginap di hotel,” jelasnya. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata melalui promosi yang lebih agresif. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengatakan pihaknya rutin menggelar kegiatan table top dan travel dialog yang mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan agen perjalanan. Melalui forum tersebut, pemerintah memperkenalkan beragam potensi wisata Sleman, mulai dari desa wisata, kawasan cagar budaya, museum, hingga berbagai agenda event yang dapat dikemas menjadi paket wisata. “Pariwisata tidak hanya bergantung pada destinasi, tetapi juga pada event. Jika keduanya dipromosikan secara bersamaan, daya tarik wisata Sleman akan semakin kuat,” ujar Kus. Ia menambahkan, penyelenggaraan event di berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta juga memberikan dampak positif terhadap industri perhotelan di Sleman. Menurutnya, wisatawan yang menghadiri kegiatan di Kota Yogyakarta, Bantul, maupun Gunungkidul tetap banyak yang memilih menginap di hotel-hotel yang berada di Sleman. “Kami ingin wisatawan bebas menikmati event di seluruh DIY, tetapi tetap menjadikan Sleman sebagai pilihan utama untuk menginap. Itu akan memberikan efek ekonomi yang besar bagi daerah,” pungkasnya.