Pengusaha: Okupansi Hotel Naik dengan ”Rate” Kamar Lebih Rendah
-
BY
Bookingina
-
Source :
Kompas.id
- DATE 07/09/2026
JAKARTA, KOMPAS — Dalam masa liburan sekolah kali ini, tingkat okupansi atau keterisian kamar meningkat. Namun, standar tarif atau rate kamar lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, Selasa (7/7/2026), mengungkapkan, ada peningkatan okupansi hotel saat libur sekolah dibandingkan dengan hari biasa. Musim puncak (peak season) mampu mendongkrak okupansi hingga 20 persen. Akan tetapi, okupansi reguler sudah tergolong rendah.Dari sisi pergerakan wisatawan mancanegara (wisman), lanjut Maulana, ada kenaikan kunjungan ke Indonesia. Hal ini merupakan dampak dari lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Daerah yang paling banyak merasakan kedatangan wisman ini masih terpusat di Bali, Jakarta, dan Batam (Kepulauan Riau).Pada saat yang sama, aktivitas pemerintah dan korporasi di perhotelan juga masih minim. Dengan demikian, musim puncak liburan kali ini tidak cukup optimal untuk mendongkrak performa perhotelan.”Begitu libur sekolah usai, ini kapan terjadi okupansi? Apakah masih bisa terjaga atau terjun bebas? Jadi pertanyaan lagi karena situasi ini,” ujarnya.Secara umum, rata-rata okupansi sepanjang Januari-Mei 2026 masih di bawah 2 persen, lebih rendah ketimbang tahun lalu dalam periode yang sama.Tarif kamar turunPersoalan lain terkait dengan rate atau tarif kamar. Maulana mengungkapkan, meski ada kenaikan okupansi selama musim liburan sekolah ini, tarif kamar ternyata lebih rendah 5-10 persen.”Kalau saya melihat, rate lebih rendah mungkin 5-10 persen. Masalah rate dari sisi hotel karena dilihat rata-rata (okupansi) cuma 70 persen, kan, enggak ketemu di published rate. Angka itu terwujud kalau okupansi di atas 80 persen,” ujar Maulana.Published rate merupakan harga maksimum, tanpa diskon yang dikenakan pihak hotel pada pelanggan. Angka itu menjadi standar dasar untuk harga retail.Salah satu komponen terbesar dalam sebuah perjalanan adalah akomodasi. Di tengah daya beli yang rendah, menurut Maulana, banyak masyarakat yang menurunkan kelas akomodasinya seperti ke hotel berbintang satu dan dua. Meski demikian, golongan tertentu tetap memilih hotel berbintang tiga hingga lima.”Kalau saya perhatikan, banyak budget hotel lebih ramai pada libur tahun ini,” ujarnya.Dihubungi secara terpisah, Vice President of Human Resources RedDoorz Yona Aldila Pratama mengemukakan, libur sekolah berkontribusi signifikan terhadap kinerja RedDoorz karena salah satu targetnya adalah keluarga.Tren saat ini menunjukkan, masyarakat mengutamakan pengalaman berlibur dekat, praktis, terjangkau, tetapi tetap berkesan. Perjalanan singkat (short trip), tinggal di penginapan saja (staycation), serta eksplorasi destinasi dalam kota atau kota terekat menjadi pilihan yang diminati.”Alih-alih mengurangi frekuensi berlibur, banyak wisatawan justru lebih selektif dalam memilih akomodasi yang menawarkan value for money, seperti harga terjangkau, lokasi strategis, dan proses pemesanan yang mudah,” tutur Yona.Selama periode libur sekolah pada 22 Juni-6 Juli 2026, RedDoorz mencatat pertumbuhan positif. Penjualan kamar naik 35 persen, sedangkan tingkat okupansi meningkat menjadi 54,55 persen.Komponen pemasukan hotel banyak disumbang sektor makan dan minum (F&B) yang mencapai 30-40 persen. Paket makanan dan minum banyak laku dari rapat-rapat yang digelar di hotel. Sementara kontribusi penjualan kamar menyumbang 20-30 persen untuk pemasukan hotel.Belanja masyarakat meningkatDalam laporan Daily Economic and Market yang diterbitkan Bank Mandiri, belanja masyarakat mulai meningkat saat libur sekolah. Dengan indikator belanja Mandiri Spending Index (MSI), indeks belanja pada minggu ketiga Juni 2026 atau pekan kedua libur sekolah mencapai 123,3 poin, tumbuh 0,36 persen dibandingkan pekan sebelumnya.”Setelah beberapa minggu bergerak terbatas, belanja mulai meningkat seiring libur sekolah yang telah memasuki minggu kedua. Secara historis, belanja di libur sekolah mencapai puncak di minggu terakhir periode libur, dengan peningkatan antara 1,8-2,4 persen dibandingkan rata-rata tingkat belanja pra-libur,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.Seluruh wilayah melanjutkan pertumbuhan positif pada pekan ketiga Juni. Kenaikan tertinggi berada di Jawa dengan pertumbuhan 0,4 persen secara mingguan, disusul Sumatera dan Sulawesi (0,27 persen), Kalimantan (0,26 persen), Maluku dan Papua (0,22 persen), serta Bali dan Nusa Tenggara (0,12 persen).Meski demikian, pertumbuhan belanja tertinggi secara tahunan (yoy) disumbang Sulawesi (10 persen), Kalimantan (9,3 persen), serta Bali dan Nusa Tenggara (8 persen).Menurut kelompok belanjanya, seluruh kategori tumbuh positif dengan kenaikan tertinggi pada mobilitas (0,53 persen secara mingguan), diikuti rekreasi atau leisures (0,51 persen), elektronik (0,4 persen), serta barang rumah tangga (0,37 persen).”Pola ini menunjukkan dorongan libur sekolah mulai tecermin pada belanja terkait perjalanan, rekreasi, dan aktivitas luar rumah. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan mingguan tahun ini juga lebih tinggi di hampir seluruh kelompok belanja,” tertulis dalam laporan Bank Mandiri.Berkaca pada pengalaman tren sebelumnya, puncak belanja libur sekolah biasanya berlangsung pada fase akhir periode libur. Momentum belanja ini perlu dijaga.Menanggapi fenomena ini, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia (PKPEI) Muhammad Rahmad mengatakan, okupansi kamar hotel memang naik, tetapi tarif kamar menyusut. Destinasi wisata tampak ramai, tetapi bukan berarti meraup keuntungan.Saat bersamaan, sebagian kelas menengah (middle class) menyusut jumlahnya, turun ke kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah. Padahal, konsumsi nasional didominasi kedua kelompok tersebut.”Berwisata adalah konsumsi tersier. Itu jadi pos pertama yang dipangkas saat rumah tangga tertekan. Yang terjadi bukan orang berhenti berwisata, melainkan downtrading, yakni dari hotel bintang empat ke bintang tiga, dari liburan lima hari ke dua hari, dari lintas pulau ke dekat rumah,” ujar Rahmad.Saat libur sekolah, masyarakat Indonesia akan tetap memilih bepergian guna memenuhi kebutuhan sosialnya. Namun, libur yang jatuh bersamaan dengan tahun ajaran baru mendesak orangtua untuk memprioritaskan pendidikan di tengah tekanan daya beli. Imbasnya, durasi berlibur dipangkas, jarak bepergian diperpendek, kelas akomodasi diturunkan.