Krisis BBM Ganggu Pariwisata, PHRI Desak Tambah SPBU di Nusa Penida
-
BY
Bookingina
- DATE 07/03/2026
SEMARAPURA, NusaBali.com - Krisis BBM yang memicu antrean panjang kendaraan di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, dinilai tidak akan selesai hanya dengan menambah kuota BBM. Karena itu, PHRI Klungkung mendesak pemerintah bersama Pertamina menambah SPBU/APMS untuk kendaraan, serta membangun fasilitas pengisian BBM khusus fast boat, sebagai solusi jangka panjang mengatasi persoalan tersebut.
Ketua PHRI Kabupaten Klungkung Putu Darmaya, mengatakan antrean kendaraan yang terjadi sejak Senin (29/6/2026) hingga Jumat (3/7/2026) menunjukkan kapasitas fasilitas penyaluran BBM di Nusa Penida sudah tidak lagi memadai. Saat ini, Nusa Penida hanya memiliki dua APMS, yakni APMS Batumulapan di Desa Batununggul dan APMS Sental di Desa Ped, serta satu SPBU di Banjar Nyuh, Desa Ped.Menurutnya, keterbatasan kapasitas area pelayanan membuat kendaraan tidak tertampung di dalam APMS maupun SPBU, sehingga antrean meluber hingga ke badan jalan dan memicu kemacetan di jalur utama menuju kawasan wisata. "Kalau hanya menambah kuota BBM di satu APMS atau SPBU, antreannya tetap panjang. Persoalannya bukan hanya stok, tetapi tempat pelayanannya kecil. Yang lebih efektif adalah menambah SPBU atau APMS baru pada titik-titik ruas jalan lain yang sedikit lebih jauh, sehingga antrean bisa terbagi," ujar Darmaya saat dihubungi via telpon.Dia mengusulkan penambahan SPBU/APMS di titik lain yang tidak berada di jalur utama kawasan wisata. Dengan demikian, distribusi kendaraan akan lebih merata, cepat dan kemacetan akibat antrean BBM dapat perlahan dikurangi.Selain itu, PHRI menyoroti belum adanya fasilitas pengisian BBM khusus fast boat di kawasan pelabuhan. Selama ini kebutuhan BBM kapal wisata masih bergantung pada pasokan dari APMS maupun SPBU melalui pembelian menggunakan jeriken karena belum tersedia fasilitas pengisian langsung di pelabuhan."Kapal tidak mungkin masuk ke darat untuk mengisi BBM. Akhirnya harus menggunakan jeriken. Di sisi lain, penggunaan jeriken juga menjadi dilema karena dibatasi aturan, padahal kapal membutuhkan BBM dalam jumlah besar. Akibatnya kapal dan kendaraan darat mengambil pasokan dari sumber yang sama," kata Darmaya.Masih menurut Darmaya, keberadaan fasilitas pengisian BBM khusus fast boat akan membuat distribusi BBM lebih tertata sekaligus mengurangi antrean kendaraan di APMS maupun SPBU. "Mestinya di setiap pelabuhan ada fasilitas pengisian BBM khusus kapal. Dengan begitu kapal tidak lagi mengambil BBM di tempat yang sama dengan mobil," katanya.Sejumlah pelaku usaha, seperti pengusaha fast boat, bahkan memilih mengisi BBM kapal di Denpasar sebelum berlayar menuju Nusa Penida agar operasional wisata tidak terganggu. "Dampaknya pasti berat. Kalau BBM tidak ada, operasional menjadi susah. Kami sampai menyiasati pengisian BBM kapal di Denpasar karena kalau mengantre di Nusa Penida terlalu lama dan menghabiskan waktu," ungkapnya.Meski demikian, Darmaya mengatakan sebagian besar wisatawan masih dapat memahami kondisi tersebut setelah mendapatkan penjelasan dari pelaku usaha wisata. Dia memperkirakan kunjungan wisatawan akan kembali meningkat (high season) mulai pertengahan Juli hingga Agustus seiring dimulainya musim liburan di sejumlah negara.Dia pun mengajak seluruh pelaku pariwisata menjaga citra positif Nusa Penida dengan tidak memperbesar persoalan melalui unggahan bernada negatif di media sosial. Menurutnya, berbagai persoalan sebaiknya disampaikan kepada pemerintah melalui jalur komunikasi yang tepat agar dapat segera dicarikan solusi tanpa memengaruhi kepercayaan wisatawan."Kalau ada persoalan, sampaikan kepada pemerintah melalui jalur yang baik. Mari bersama-sama menjaga citra Nusa Penida sambil terus mendorong percepatan pembenahan yang sedang dilakukan pemerintah. Pemerintah daerah kita sudah bekerja, bahkan harus mencari pinjaman daerah untuk merealisasikan perbaikan jalan. Kita harus berakhir sabar dan ikuti proses," kata Darmaya. *gik