Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah dan euforia turnamen akbar Piala Dunia 2026 di Amerika Utara sempat dikhawatirkan bakal menggerus kunjungan wisatawan ke Bali.  Namun, magnet Pulau Dewata terbukti meleset dari prediksi siklus empat tahunan tersebut, dengan mencatatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tetap positif sepanjang caturwulan pertama tahun ini. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, mengungkapkan bahwa situasi ekonomi global saat ini ibarat pisau bermata dua bagi industri pariwisata di Bali.  Di satu sisi, melemahnya Rupiah menjadi daya tarik tersendiri bagi turis asing karena biaya berlibur menjadi jauh lebih murah. Baca juga: Kenaikan Harga Pertamax, Klungkung Siapkan Penyesuaian Anggaran Transportasi OPD, Tekankan Efisiensi "Di satu sisi itu menjadi berkah karena mereka mempunyai kesempatan untuk expand-nya lebih banyak," ujar pria yang akrab disapa Cok Ace tersebut pada Kamis 11 Juni 2026. Menurutnya, penguatan mata uang asing membuat wisatawan merasa diuntungkan meskipun saat ini sedang terjadi kenaikan harga tiket pesawat secara global. "Walaupun ada kenaikan harga tiket pesawat, tapi kalau dikompensasikan dengan keseluruhan cost-nya dia untuk traveling, saya kira itu masih memudahkan atau lebih menguntungkan kepada wisatawan," lanjut Cok Ace. Namun, di sisi lain, keperkasaan dolar menjadi tantangan berat bagi para pelaku usaha akomodasi dan restoran di Bali.  Pasalnya, pendapatan yang diterima berbasis Rupiah, sementara biaya operasional untuk bahan baku premium masih sangat bergantung pada impor yang menggunakan denominasi dolar AS. Baca juga: RSUD Gema Santi Butuh Dua Dokter Spesialis, Siapkan Insentif Tambahan Untuk Bertugas di Nusa Penida "Bagi kami pelaku pariwisata, karena kami menerima uang dalam bentuk Rupiah, sedangkan pembelanjaan kami lebih banyak juga pakai dolar, ke US Dolar khususnya," jelasnya. Cok Ace merinci, sejumlah kebutuhan utama pariwisata seperti daging berkualitas tinggi hingga minuman beralkohol mau tidak mau harus didatangkan dari luar negeri.  Situasi ini menjepit margin keuntungan para pengusaha karena mereka berkomitmen untuk tidak menurunkan standar pelayanan demi menjaga reputasi Bali. "Daging berapa kami pakai impor, berapa minuman-minuman alkohol juga kami mesti impor dan lain-lain banyak mesti kami impor," ujar dia.  "Kalau menurunkan kualitas juga tidak mungkin, nah ini menjadi tantangan kita ke depan untuk pintar-pintarlah mengatur diri," tegas mantan Wakil Gubernur Bali tersebut.