Jakarta, Beritasatu.com – Meski pelemahan kurs rupiah hingga Rp 18.000 per dolar AS membuat pariwisata Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing, tantangan baru muncul dari sektor penerbangan akibat perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. ADVERTISEMENT Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menghambat kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) dari negara-negara yang berjarak jauh. Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan wisman yang berasal dari Eropa dan Amerika umumnya menggunakan maskapai dengan hub penerbangan di Timur Tengah, seperti Emirates dan Qatar Airways. ADVERTISEMENT "Konflik geopolitik membuat rute penerbangan menjadi lebih rumit dan penuh ketidakpastian. Walaupun minat mereka ke Indonesia tinggi karena nilai tukar yang menguntungkan, aksesnya tidak semudah wisman dari negara tetangga," jelas Maulana saat dihubungi Beritasatu.com. Oleh karena itu, PHRI menyarankan industri pariwisata nasional untuk lebih realistis dan memprioritaskan pasar cross-border yang lebih dekat, seperti Singapura dan Malaysia, yang tidak terdampak langsung oleh gangguan rute penerbangan internasional tersebut. Dari sisi lain, melambungnya harga tiket pesawat membuat wisatawan nusantara (wisnus) semakin beralih ke transportasi darat. PHRI mencatat Pulau Jawa menjadi penopang utama tingkat okupansi hotel nasional berkat konektivitas infrastruktur yang memadai. Maulana menjelaskan jaringan jalan tol yang terhubung dari Jakarta hingga Surabaya memberikan alternatif bagi masyarakat untuk tetap berlibur dengan biaya yang lebih terjangkau menggunakan kendaraan pribadi. "Saat libur panjang kemarin, kawasan seperti Puncak, Yogyakarta, dan Batu, Malang, mengalami lonjakan pengunjung. Mereka memilih jalur darat demi menghindari biaya tiket pesawat yang mahal," kata Maulana. Kondisi ini menunjukkan populasi besar di Pulau Jawa masih terkonsentrasi pada wisata berbasis darat. Oleh karena itu, PHRI berharap pemerataan infrastruktur serupa dapat segera terwujud di pulau-pulau besar lainnya agar pariwisata luar Jawa tidak semakin tertekan akibat gejolak nilai tukar. Simak berita dan artikel lainnya di Google News Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu