KOMPAS.com - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyampaikan, sejumlah pengelola hotel di wilayah tersebut melakukan efisiensi untuk menekan kenaikan biaya operasional hotel.  Dengan demikian, diharapkan harga kamar hotel tetap stabil dan ramah di kantong para tamu.Baca juga: Okupansi Hotel Kota Batu Capai 80 Persen Saat Long Weekend Waisak 2026 Ada Konser F4 di Jakarta, Okupansi Hotel Sekitar GBK Capai 90 Persen Humas PHRI Cianjur, Rizal menuturkan, para pengelola hotel yang menjadi anggotanya mengeluhkan kondisi ekonomi saat ini. Mereka merasakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat. Adapun efisiensi yang dilakukan tidak berdampak terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan. Pengelola hotel lebih fokus pada pengendalian biaya operasional seperti listrik, air, dan pengadaan bahan baku. "Nilai tukar rupiah melemah membuat anggota kami mengeluh karena harga bahan baku dan biaya operasional terus mengalami kenaikan sehingga berbagai upaya dilakukan agar harga kamar tetap stabil di tengah kenaikan tersebut," tutur Rizal, dilansir dari Antara, Rabu (3/6/2026). Baca juga: Booking Hotel via Medsos Tidak Disarankan Menteri Pariwisata, Mengapa? Marak Booking Hotel via Medsos, Menpar Imbau Wisatawan Pesan Langsung Rupiah melemah, pengelola hotel di Cianjur lakukan efisiensi Jaga agar tarif kamar tidak naik DOK.SHUTTERSTOCK/Kanyapak Lim Hotel anggota PHRI Cianjur memilih untuk melakukan efisiensi, imbas melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.Mengapa pengelola hotel menghindari opsi menaikkan tarif kamar? Ketika harga kamar dinaikkan, hal itu akan berimbas pada tingkat hunian hotel.  Tingkat okupansi hotel di Cianjur disebut tengah menunjukkan tren yang baik dalam beberapa pekan terakhir. "Berdasarkan data yang tercatat selama libur panjang pakan lalu tingkat hunian hotel anggota PHRI Cianjur mencapai 58 persen, namun sebagian kecil melaporkan tingkat okupansi-nya mencapai 70 persen," ucap Rizal. Tren positif ini harus dipertahankan sehingga para pengelola hotel lebih memilih menahan diri. Rizal menambahkan, peningkatan okupansi selama libur panjang akhir pekan menunjukkan kawasan wisata Puncak-Cianjur masih menjadi tujuan utama pengunjung dari Jabodetabek, Bandung, Sukabumi, dan warga lokal. "Kondisi tersebut akan terus dipertahankan meski pengelola hotel anggota PHRI Cianjur terdampak kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat di mana harga bahan baku dan biaya operasional membengkak," ucap Rizal. Baca juga: Minta Air Keran tapi Ditolak, Turis di Italia Gugat Hotel Rp 20 Juta Pengelola Hotel, Restoran, dan Kafe di Indonesia Diminta Kelola Sampah Mandiri KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang