PENDAPATAN STAGNAN: Sejumlah hotel di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Batu menjadi salah satu hotel yang menjadi jujugan wisatawan luar daerah. BATU, RADAR BATU - Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memicu paradoks ekonomi yang memukul sektor pelesiran. Berdasarkan catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, tingkat hunian hotel sempat melesat menembus angka 80 persen pada rentang Mei hingga awal Juni ini. Penyebabnya, derasnya arus wisatawan domestik. Sayangnya, pendapatan pelaku usaha perhotelan terjebak stagnasi. Ketua PHRI Kota Batu Sujud Hariadi menyebut mandeknya omzet ini dipicu belum pulihnya daya beli masyarakat secara makro. Kondisi finansial yang tertekan membuat pelancong lebih sensitif terhadap coretan harga. Akibatnya, pengusaha tidak berani mengambil risiko untuk menaikkan tarif layanan secara progresif. BACA JUGA: Setoran Pajak Makan dan Minum di Kota Batu Tembus Rp 15,8 Miliar “Pariwisatanya memang terus bergerak positif karena pasar domestik naik. Namun, kami tidak bisa menaikkan tarif secara signifikan karena daya beli masyarakat masih sangat rentan,” urai Sujud. Dia menyebut profil wisatawan saat ini cenderung jauh lebih selektif. Mereka mengalkulasi anggaran liburan secara ketat. Selain itu, wisatawan juga memburu destinasi yang menawarkan paket ekonomis atau tiket bundling terjangkau. Situasi pengetatan anggaran ini menciptakan kontras yang tajam jika dibandingkan dengan masa kejayaan pariwisata beberapa tahun silam. BACA JUGA: DPRD Ingatkan Risiko Konflik Kepentingan Calon Sekda Kota Batu, Integritas Jadi Faktor Penentu Direktur Utama PT Selecta tersebut mengenang masa ketika manajemen hotel memiliki ruang yang sangat leluasa untuk mengerek tarif hingga berkali-kali lipat setiap kali musim libur panjang tiba. “Dulu, tarif bisa naik 50 persen bahkan hingga dua kali lipat. Sekarang, harga kamar satu juta rupiah ya terpaksa kami tahan di angka satu juta itu saja,” pungkasnya. Walhasil, meski kamar penuh, margin keuntungan manajemen hotel tidak lagi segemuk dahulu. (ori/dre) Editor : Fajar Andre Setiawan